Ciri Dan Sifat Manusia Menjelang Kiamat, Bagian 1

Daftar Isi
sifat manusia akhir zaman

Ciri dan sifat manusia berikut ini dikutip dari tulisan Rasul Paulus. Surat yang dituliskan Paulus dalam 2 Timotius 3:1-9 merupakan surat penggembalaan atau surat yang berisi nasehat-nasehat kepada jemaat atau anak didiknya, agar waspada terhadap ajaran palsu dan sifat manusia menjelang akhir zaman.

Paulus menugaskan Timotius sebagai wakil rasuli untuk melayani di Efesus, dan Titus di Kreta. Dari Makedonia, Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius, dan beberapa waktu kemudian dia menulis kepada Titus. Setelah itu, Paulus kembali ditawan di Roma, ketika dia menulis surat yang kedua kepada Timotius, tidak lama sebelum dia mati syahid pada tahun 67

Semua yang ditulis pada zaman itu dengan segala kondisi dan situasi, menggambarkan situasi zaman sekarang. Semua kata-kata yang dituliskan merupakan sebuah nubuatan yang akan terjadi suatu hari nanti. Dan fakta dari nubuatan itu terbukti dengan kondisi dan sikap manusia saat ini.

Secara umum ada begitu banyak ciri sifat dan karakter buruk manusia menjelang kiamat namun tulisan Paulus ini merinci beberapa sifat manusia yang sangat spesifik:

Mencintai Diri Sendiri

Kata 'mementingkan diri" atau  φιλαυτος / philautos (Yunani) artinya egosentri, berpusat pada diri sendiri, tidak peduli pada kepentingan orang lain.

 Monica Sulistiawati, M.Psi. Psikolog Pertumbuhan Pribadi mengatakan:
Cinta diri atau self love adalah keadaan dimana anda menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri anda, menghargai diri sendiri, mendukung diri sendiri, berusaha berbuat baik untuk diri sendiri dan berusaha memaafkan diri sendiri ketika melakukan sesuatu yang buruk adalah intinya. "Mencintai diri sendiri atau mencintai diri sendiri adalah mencoba menerima diri sendiri apa adanya."

Ini bermasalah ketika cinta diri menjadi "egois", egois, atau egois, yang berarti Anda menempatkan diri Anda pada posisi yang tidak Anda inginkan dalam hidup. Jadi Anda menyakiti diri sendiri, Anda membandingkan diri Anda dengan kehidupan orang lain.

Orang yang egois tidak mempedulikan orang lain, selalu mengutamakan kepentingannya, bahkan sering menyakiti orang lain bahkan merasa sakit hati apabila diabaikan. Prinsipnya adalah "I come first", saya lebih penting.

Hamba Uang

Kata 'hamba uang' atau φιλαργυρος philarguros (Yunani) adalah sikap mencintai uang dan menghambakan diri kepada uang dan menempatkan uang sebagai tuan. Kata ini juga bermakna 'keserakahan'

Hamba adalah orang yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri, orang yang tidak menginginkan dirinya sendiri. Dia seperti orang mati yang bisa berjalan dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Semua yang tuannya katakan harus dilakukan, dan dia bahkan tidak memiliki hak atas hidupnya.

Menjadi budak uang adalah keserakahan, uang mengatur kehidupan dalam segala hal dan bahkan hidup dan mati diatur oleh uang. Hamba uang selalu merasa tidak mampu, dia terus mengejar atau mencari uang. Berbagai cara digunakan untuk mendapatkan uang termasuk cara yang buruk, korupsi, penipuan dll.

1 Timotius 6:10
Karena akar dari segala kejahatan adalah cinta uang. Karena mengejar uang, beberapa orang telah kehilangan keyakinan dan menyiksa diri dengan banyak kekhawatiran.

Membual

Membual adalah bercerita dengan melebih-lebihkan. Jadi membual adalah menceritakan sesuatu yang sudah tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Sudah ditambah-tambah. Membual artinya membesar-besarkan fakta yang ada. Contoh: ketika bercerita tentang anaknya, keluarganya atau bahkan dirinya selalu ditambah-tambah. 

Sebagian mungkin benar sesuai fakta yang ada. Tapi sebagian mungkin tidak benar dan bohong belaka. Jadi orang yang membual memiliki maksud supaya dirinya terlihat lebih hebat dari orang lain. Jadi sebenarnya tanpa disadari orang yang membual ini sudah melakukan dosa kesombongan dan kebohongan.

Menyombongkan Diri

Trend flexing atau suka pamer menjadi gaya hidup yang normal saat ini. Ada pepatah berkata: "Poverty screams but wealth whispers". Orang miskin selalu berisik namun orang kaya berbisik. Sejatinya semakin kaya seseorang justru rendah hati, menginginkan privasi tidak ingin jadi pusat perhatian.

Orang yang sombong merasa diri kaya selalu membuat sensasi dan mencari perhatian. Orang sombong berusaha memamerkan kekayaan untuk meyakinkan orang lain dengan kekayaan mereka, suka pamer, menggunakan barang-barang mewah, menyebutkan nama orang-orang terkenal hanya untuk menunjukkan kehebatannya dan mencari perhatian.

Terkadang apa yang kita lihat sangat menggiurkan ternyata realitanya jauh berbeda. Pada dasarnya orang yang benar-benar kaya adalah orang yang menjaga privasi. Mereka mengutamakan comfort dan quality bukan lebel atau merek besar sebaliknya orang yang tidak mempunyai uang atau miskin selalu berusaha agar dikenal. 

Orang yang rendah hati bila berjumpa seseorang mereka selalu bertanya dan bukan menjelaskan diri mereka. Sebaliknya orang sombong selalu berusaha menjelaskan tentang dirinya dan segala keberhasilan yang mereka raih.

Pemfitnah

Seorang pemfitnah adalah orang memberikan pujian yang tidak tulus, atau bertindak seolah-olah kritik adalah pujian, ia mungkin sedang menyembunyikan kecemburuan atau kemarahannya.

Seseorang berpihak pada Anda jika hanya ada dia dan Anda, lalu ia akan berpihak pada orang lain ketika Anda membicarakan subyek yang sama dalam sebuah kelompok.

Pemfitnah mengingat kembali semua keluhan dan kelalaiannya dengan percaya diri. Orang seperti ini mungkin menyimpan rasa sakit hati dalam waktu yang lama dan merasa berhak melakukan balas dendam.

Seorang pemfitnah adalah orang yang tidak suka menghargai orang lain. mengabaikan pendapat orang lain, atau tidak bisa mengubah perilakunya ketika diminta untuk berhenti.
Seorang pemfitnah sulit dipegang kata-katanya dan selalu berubah.

Memberontak Terhadap Orang Tua

Pemberontakan terjadi karena beberapa alasan bermula dari peran orang tua dalam keluarga. Orang tua yang keras, tidak mengasihi dan suka mengkritik. Orang tua tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal itu bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya.

Alasan lain adalah faktor lingkungan dan perkembangan teknologi. Anak lebih percaya media sosial dibanding nasehat orang tua. Mereka lebih mendengarkan dan patuh kepada nasehat teman-temannya.
Anak kehilangan bekal teladan dan kesantunan dari orang tua sehingga menjadi generasi pemberontak yang tidak menghormati orang tuanya.

Lahirlah generasi pemberontak karena tugas utama sebagai orang tua diambil alih oleh mesin dan teknologi sehingga generasi tumbuh tanpa hati nurani dan kepekaan.

Continue Part 2...

Posting Komentar