Dari Akar Pentakosta Ke Garis Pemisah: Kisah GPdI-GBIS-GBI
![]() |
| Pixabay:Gwen24 |
Latar belakang: gelombang Pentakosta di Indonesia
Gerakan Pentakosta masuk ke Nusantara sejak awal abad ke-20 lewat penginjilan oleh misionaris Belanda dan Amerika. Dari sinilah kemudian tumbuh beberapa struktur gerejawi lokal: GPdI tumbuh menjadi salah satu badan Pentakosta tertua dan terluas di Indonesia, tetapi sepanjang perkembangannya GPdI juga mengalami sejumlah perpecahan internal yang bersumber pada perbedaan praktik ibadah, tata gereja dan hubungan dengan misionaris asing. (Wikipedia)
Titik awal konflik: beda praktik dan kepemimpinan (1940–1960-an)
Dokumen sejarah menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-20 sejumlah pendeta dan jemaat GPdI mulai mempertanyakan beberapa tata gereja dan model pelayanan yang dianggap tidak cocok dengan visi mereka. Pada 1950-an tercatat Pdt. T.G. van Gessel dan H.L. Senduk (Ho Liong Seng) memisahkan diri dari GPdI dan terlibat dalam pembentukan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)—langkah yang menandai awal rantai pemisahan dalam keluarga Pentakosta Indonesia. Faktor yang sering muncul dalam catatan adalah: perbedaan gaya liturgi, hubungan dengan misionaris asing, dan persoalan tata organisasi sinodal versus otoritas lokal. (Gbis Online)
Dari GBIS ke GBI: reorganisasi, kepemimpinan lokal, dan pengakuan negara
Perkembangan selanjutnya adalah transformasi jaringan gerejawi yang dipimpin tokoh-tokoh seperti H.L. Senduk. Menurut catatan institusional GBI dan ensiklopedia gerejawi, Pdt. H.L. Senduk bersama rekan-rekannya mendirikan organisasi yang kemudian resmi bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) pada 6 Oktober 1970 di Sukabumi; pengakuan resmi pemerintah datang beberapa tahun kemudian (SK Menag 9 Desember 1972). Dalam narasi ini, GBI muncul bukan sebagai “pecahan” tunggal dari GPdI pada satu momen, melainkan sebagai hasil proses panjang: keluarnya tokoh-tokoh dari GPdI, pembentukan GBIS/kelompok lain, dan kemudian pendirian sinode baru yang terpisah. (Wikipedia)
Tokoh-tokoh kunci dalam narasi pemisahan
Berikut ringkasan peran tokoh-tokoh yang sering disebut dalam berbagai sumber sejarah gerejawi:
-
Pdt. H.L. (Ho) Senduk (Ho Liong Seng) — figur sentral yang awalnya berkarya dalam aliran Pentakosta dan tercatat sebagai salah satu pendiri yang memprakarsai terbentuknya GBI (pendirian formal 1970). Perannya penting dalam memobilisasi jaringan gerejawi yang akhirnya membentuk sinode GBI. (Wikipedia)
-
Pdt. T. G. van Gessel — nama yang muncul sebagai pemimpin yang berpisah dari GPdI pada paruh pertama abad ke-20; terlibat dalam pembentukan badan-badan Bethel seperti GBIS bersama H.L. Senduk. (Gbis Online)
-
Misionaris awal (Groesbeek, Van Klaveren, R. Devin, dsb.) — mereka adalah agen awal penyebaran pentakosta yang meletakkan fondasi jemaat-jemaat yang kemudian berkembang menjadi institusi lokal. Hubungan awal dengan misionaris mempengaruhi pola adhesi organisasi dan ketegangan pada era transisi kemerdekaan. (PGI.OR.ID)
Faktor pemecah: lebih dari sekadar doktrin
Analisis dari sumber-sumber gerejawi menunjukkan bahwa penyebab pemisahan bukan hanya satu persoalan doktrinal semata, melainkan kombinasi:
-
Perbedaan tata gereja (governance) — perselisihan mengenai otoritas sinodal vs. otonomi lokal;
-
Gaya ibadah dan praktik karismatik — variasi dalam cara beribadah (musikalitas, manifestasi karismatik, dsb.) memicu ketidakcocokan;
-
Hubungan dengan misionaris luar — masalah afiliasi dan arah kemitraan dengan badan misi internasional memengaruhi identitas organisasi;
-
Kepemimpinan dan personalisasi konflik — tokoh-tokoh lokal yang kuat kadang berkonflik dengan struktur yang ada, mempercepat pemekaran. (Wikipedia)
Dampak jangka panjang pada lanskap Pentakosta Indonesia
Pemisahan-pemisahan ini, termasuk lahirnya GBI, menyumbang pada pluralitas gereja Pentakosta di Indonesia. Sebuah sisi positif yang sering dicatat adalah bertumbuhnya variasi pelayanan dan perluasan jangkauan injil; sisi lain yang menjadi catatan adalah tantangan ekumenis—koordinasi antar-sinode kerap dipersulit oleh sejarah luka dan kompetisi administratif. Dalam konteks yang lebih luas, fragmentasi ini juga merefleksikan dinamika gereja pascakolonial: bagaimana otoritas, identitas budaya, dan kontrol organisasi bernegosiasi dalam pembentukan gereja-gereja modern. (gkj-joglo)
Kesimpulan
Kisah GPdI–GBI bukan sekadar kisah “perceraian” institusional; ia adalah narasi panjang tentang adaptasi, ketegangan antara tradisi dan pembaruan, serta peran pemimpin lokal dalam membentuk wajah kekristenan pentakosta Indonesia. Pemisahan GBI mencerminkan proses-proses struktural dan personal: pembentukan identitas teologis, interpretasi praktik ibadah, serta preferensi model pemerintahan gereja. Untuk pembaca yang ingin memahami dinamika ini, penting menelaah arsip sinode masing-masing pihak dan wawancara manufaktur sejarah lisan (oral history) dari tokoh yang hidup pada periode itu.
Daftar Pustaka:
- “Gereja Bethel Indonesia” — Wikipedia Indonesia. (Wikipedia)
- “Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI)” — Wikipedia Indonesia. (Wikipedia)
- Sejarah dan halaman resmi sinode GBI / BPP GBI. (bppgbi.org)
- “Sejarah GBIS” dan catatan tentang Van Gessel / H.L. Senduk. (Gbis Online)
- Ensiklopedia/Studi pergerejaan lokal (artikula sejarah GBI dan perkembangannya). (STELOM)

Posting Komentar untuk "Dari Akar Pentakosta Ke Garis Pemisah: Kisah GPdI-GBIS-GBI"