Bidat Monotelitisme: Ketika Kehendak Manusia Yesus “Dihapus” Demi Kedamaian Teologi
Kalau ada ajaran yang berkata,
“Yesus itu punya dua natur, tapi cuma satu kehendak,”
kedengarannya rapi.
Kedengarannya damai.
Tapi itu Monotelitisme.
Dan sekali lagi, niatnya kelihatan baik—
hasilnya justru merusak Injil.
Latar Sejarah Singkat
Monotelitisme muncul sekitar abad ke-7.
Tujuannya politis dan teologis:
menyatukan gereja yang sedang ribut soal natur Kristus.
Solusinya:
“Oke, Yesus dua natur—ilahi dan manusia—
tapi kehendaknya satu saja.”
Kelihatannya kompromi cerdas.
Padahal kompromi ini mahal.
Inti Ajaran Monotelitisme
Secara sederhana:
Yesus memiliki dua natur
Tapi hanya satu kehendak
Kehendak ilahi mendominasi
Kehendak manusia Yesus ditiadakan
Ketaatan Yesus bukan pergumulan nyata
Yesus tampak taat,
tapi tidak sungguh berjuang.
Masalah Teologisnya
Alkitab mencatat Yesus berkata:
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
Kalau Yesus tidak punya kehendak manusia:
Kepada siapa Ia tunduk?
Dari apa Ia taat?
Di mana letak pergumulan-Nya?
Ketaatan tanpa pilihan bukan ketaatan.
Pengorbanan tanpa pergumulan bukan pengorbanan.
Konsili Konstantinopel III (680–681)
Gereja akhirnya menegaskan iman yang sehat:
Yesus Kristus adalah
satu Pribadi dengan dua natur dan dua kehendak,
ilahi dan manusia,
yang selaras,
bukan bertentangan.
Yesus taat sebagai manusia sejati.
Dan itulah yang menyelamatkan kita.
Kenapa Ajaran Ini Menarik?
Karena membuat Yesus terlihat “selalu mulus”.
Tidak ragu.
Tidak gelisah.
Tidak bergumul.
Masalahnya, Injil justru menunjukkan:
Yesus berkeringat darah di Getsemani.
Yesus berjuang.
Yesus memilih taat.
Dan di situlah pengharapan kita.
Monotelitisme Versi Modern
Hari ini muncul dalam bentuk:
Yesus digambarkan seperti robot ilahi
Ketaatan Yesus dianggap otomatis
Pergumulan batin Yesus diabaikan
Iman Kristen dianggap tanpa konflik batin
Akhirnya kita merasa:
“Kalau Yesus saja tidak bergumul,
kenapa saya bergumul?”
Padahal Dia justru bergumul demi kita.
Refleksi Jujur
Kadang kita juga monotelit tanpa sadar:
Mengira iman sejati tidak boleh ragu
Merasa berdosa saat bergumul
Menekan emosi demi terlihat rohani
Menganggap ketaatan harus selalu mudah
Padahal iman sejati sering lahir dari pergumulan.
Sikap Iman yang Sehat
Yesus:
Taat bukan karena terpaksa
Taat bukan karena otomatis
Taat karena memilih tunduk
Dan karena Ia punya kehendak manusia,
Ia benar-benar memahami pergumulan kita.
Ajakan untuk Bertindak
Mari:
Tidak takut mengakui pergumulan iman
Datang kepada Yesus dengan kejujuran
Belajar taat meski tidak mudah
Menolak ajaran yang membuat iman terasa palsu dan steril
Karena iman Kristen bukan tentang selalu kuat,
tapi tentang memilih taat di tengah kelemahan.
Penutup
Monotelitisme ingin Kristus yang rapi.
Injil menghadirkan Kristus yang rela bergumul.
Monotelitisme menghapus konflik batin Yesus.
Injil menunjukkan ketaatan Yesus yang mahal.
Dan hari ini, pertanyaannya bukan:
Apakah iman kita terlihat mulus?
Tapi:
Apakah kita sedang belajar taat, seperti Kristus taat?

Posting Komentar untuk "Bidat Monotelitisme: Ketika Kehendak Manusia Yesus “Dihapus” Demi Kedamaian Teologi"