Musuh Yesus Yang Paling Berbahaya: Agama Tanpa Hati
Sejarah dalam Alkitab menyimpan ironi yang sangat pahit.
Yesus Kristus tidak dibunuh oleh perampok.
Tidak oleh pelacur.
Tidak oleh orang yang jelas-jelas hidup dalam dosa.
Dia dibunuh oleh orang yang merasa membela Tuhan.
Orang yang hafal ayat.
Orang yang rajin ibadah.
Orang yang kelihatan paling saleh.
Inilah tragedi terbesar agama sepanjang sejarah.
Konflik Yesus Bukan dengan Orang Berdosa
Jika kita membaca Injil dengan jujur, kita akan menemukan sesuatu yang mengejutkan.Yesus justru sering dekat dengan orang berdosa.
Ia makan bersama pemungut cukai.
Ia mengampuni perempuan berdosa.
Ia menyembuhkan orang yang dikucilkan masyarakat.
Tetapi dengan pemimpin agama? Nada Yesus berubah menjadi sangat keras. Ia menyebut mereka:
“Kuburan yang dilabur putih.” Tampak bersih di luar, tetapi penuh kebusukan di dalam. (suarainjil.com)
Yesus tidak mengecam jabatan mereka sebagai pemimpin agama.
Yang Ia serang adalah kemunafikan mereka.
Mereka terlihat suci di depan manusia, tetapi hati mereka penuh keserakahan dan kejahatan. Ini bukan kritik ringan. Ini kritik yang sangat brutal.
Kemunafikan: Dosa yang Paling Sulit Disembuhkan
Mengapa Yesus begitu keras terhadap orang munafik? Karena dosa biasa masih bisa bertobat. Tetapi kemunafikan membuat seseorang merasa dirinya sudah benar. Orang berdosa masih bisa berkata:“Tuhan, kasihanilah aku.”Tetapi orang munafik berkata:
“Terima kasih Tuhan, aku tidak seperti orang lain.”
Masalahnya bukan pada dosa. Masalahnya pada kesombongan rohani. Dan kesombongan rohani adalah racun paling halus dalam dunia agama. Ia tidak terlihat. Tetapi mematikan.
Orang Farisi: Simbol Agama yang Kehilangan Jiwa
Dalam Injil, kelompok seperti orang Farisi dan ahli Taurat sering menjadi simbol dari masalah ini. Mereka ahli hukum Taurat. Mereka tahu aturan agama dengan detail. Namun mereka gagal memahami hal yang paling penting.Keadilan.
Belas kasihan.
Kesetiaan kepada Tuhan.
Yesus bahkan memberi peringatan keras kepada murid-murid-Nya:
“Waspadalah terhadap ragi orang Farisi.”
Ragi kecil, tetapi bisa merusak seluruh adonan. Begitu juga kemunafikan. Sedikit saja, bisa merusak seluruh kehidupan rohani.
bisa berubah menjadi topeng rohani. Orang bisa terlihat suci tanpa menjadi suci. Mereka bisa:
Hari ini kita masih bisa melihatnya: orang yang paling keras menghakimi…sering kali yang paling takut diperiksa.
Orang yang paling lantang bicara kesucian…kadang yang paling alergi terhadap pertobatan.
Dan yang paling tragis: agama dipakai untuk meninggikan diri, bukan untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan.
Karena itu pertanyaan yang paling jujur bukan: “Apakah orang Farisi masih ada?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: Apakah ada sedikit orang Farisi dalam diri kita? Apakah iman kita sungguh hidup?
Atau hanya identitas sosial? Apakah kita sungguh mencari Tuhan? Atau hanya ingin terlihat rohani?
Dia datang untuk mengubah hati manusia. Dan mungkin peringatan Yesus yang paling keras sepanjang sejarah bukan untuk orang berdosa.
Tetapi untuk orang yang merasa dirinya terlalu benar. Karena terkadang…yang paling jauh dari Tuhan
bukan mereka yang hidup dalam dosa. Tetapi mereka yang hidup dalam kesucian palsu.
Agama Bisa Menjadi Topeng
Di sinilah ironi terbesar. Agama yang seharusnya membawa manusia kepada Tuhan…bisa berubah menjadi topeng rohani. Orang bisa terlihat suci tanpa menjadi suci. Mereka bisa:
mengutip ayat, tapi tidak hidup dalam kasih
berbicara tentang Tuhan, tapi mengejar kehormatan
mengajar moral, tapi hidup dalam kepura-puraan
Masalah Ini Tidak Pernah Hilang
Masalah orang Farisi tidak berhenti di abad pertama. Ia hanya berganti pakaian.Hari ini kita masih bisa melihatnya: orang yang paling keras menghakimi…sering kali yang paling takut diperiksa.
Orang yang paling lantang bicara kesucian…kadang yang paling alergi terhadap pertobatan.
Dan yang paling tragis: agama dipakai untuk meninggikan diri, bukan untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan.
Karena itu pertanyaan yang paling jujur bukan: “Apakah orang Farisi masih ada?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: Apakah ada sedikit orang Farisi dalam diri kita? Apakah iman kita sungguh hidup?
Atau hanya identitas sosial? Apakah kita sungguh mencari Tuhan? Atau hanya ingin terlihat rohani?
Penutup: Ketika Agama Kehilangan Kristus
Dunia tidak kekurangan agama. Yang dunia kekurangan adalah hati yang benar di hadapan Tuhan. Yesus tidak datang untuk membuat manusia terlihat suci.Dia datang untuk mengubah hati manusia. Dan mungkin peringatan Yesus yang paling keras sepanjang sejarah bukan untuk orang berdosa.
Tetapi untuk orang yang merasa dirinya terlalu benar. Karena terkadang…yang paling jauh dari Tuhan
bukan mereka yang hidup dalam dosa. Tetapi mereka yang hidup dalam kesucian palsu.

Posting Komentar untuk "Musuh Yesus Yang Paling Berbahaya: Agama Tanpa Hati"