Kembali Ke Titik Nol, Selalu Ada Harapan LK3

Pria duduk tersenyum dengan latar cerah melambangkan harapan baru dan semangat untuk bangkit kembali bersama Tuhan setelah memulai dari titik nol.

Saya (Julianto Simanjuntak) merantau tahun 1982 dimulai dari Nol. Dari Medan menuju Jogja saya hanya membawa hanya satu koper kecil berisi 4 pasang pakaian, satu Kitab Suci dan beberapa buku rohani pemberian ayah saya.

Tahun 1983 saya mulai kuliah di satu seminari Batu Malang, lalu pindah ke Salatiga mengambil S1 konsentrasi Konseling di UKSW Salatiga. Setelah tamat S1 Saya Bekerja melayani satu Jemaat di Jakarta Selatan dan menjadi dosen tidak tetap di Salah satu Universitas ternama di Jakarta Barat. Lumayan mapan, bisa punya rumah sendiri dan kenderaan pribadi. 

Di tengah perjalanan baik itu, saya mengalami stres dalam bekerja dan rumah tangga. Akhirnya saya memilih kembali ke titik nol di saat usia 33 tahun. Memilih keluar dari posisi mapan sebagai Gembala Jemaat dengan ragam fasilitas, memilih kuliah lagi untuk ambil dua magister 1996-2000. 

Untuk bisa sekolah itu kami menjual rumah, dan memilih kontrak rumah di Salatiga. hasil jual rumah di depositokan untuk bisa bayar uang kuliah S2. Tidaklah mudah menjadi mahasiswa lagi selama 4 tahun penuh. Tahun 2002 setelah tamat kuliah S2 dari UKSW, kami akhirnya memulai Lembaga LK3. Dengan cepat sangat terkenal, didukung karya Buku kami yang populer, kami diundang ke banyak kota. Terbang setiap tahun 100-130 kali, memenuhi undangan. 

Sampai akhirnya Saya Burnout 2012, dan memilih kembali pindah ke Salatiga untuk memulihkan diri, memulihkan relasi dengan anak yang bermasalah. Kembali ke titik nol yang kedua. Kami cuti panjang di Salatiga 2013-2017. Untuk itu saya menolak undangan, lebih seratus acara seminar dan sejenisnya setiap tahun, memilih fokus kembali ke rumah dan mengurus lembaga, yang semakin butuh perhatian. Juga memulihkan diri dengan banyak menulis. 

Awalnya, sangat tidak enak, gelisah, hingga insomnia saat kembali ke titik nol. Namun setelah dua tahun, saya menemukan kembali Visi mula-mula, yang sempat menjadi ambisi pribadi.

Tahun 2017 setelah relasi dengan anak bungsu mulai pulih, anak bungsu kami memilih studi ke US, dan saat yang sama abangnya selesai kuliah dari Manila. Kami merasa lebih siap kembali ke Jakarta, dan memulai perjalanan baru dengan mental yang lebih stabil.

Titik nol ketiga, ialah saat Covid 19, dimana saya memilih cuti 6 bulan. Beristirahat karena long Covid disertai depresi yang saat itu melumpuhkan semangat dan kekuatan. Tahun 2021 saya mendapat kekuatan baru, dan mulai menambah Staf dari hanya 5 orang menjadi 30 staf full, disamping ada lebih 100 tenaga part-time.

Itulah beberapa perjalanan saya kembali ke titik nol, untuk retreat, recharge dan kembali  pada kasih dan visi mula-mula.

Saya tidak menyesal pernah beberapa kali kembali ke titik nol. Bersyukur, Sekarang saya mendapatkan hidup lebih stabil bekerja sebagai penulis dosen dan konselor di Selalu Ada Harapan LK3. Merasa hidup jauh lebih berguna bagi sesama. Hadiah terindah setelah melewati 3 titik nol itu, tanggal 25 Juli lalu, pas ultah LK3 ke 24, dan HUT saya ke 63 kami mendapatkan penghargaan MURI, sebagai LSP Konselor Keluarga pertama di Indonesia.

Ada satu analogi menarik dari kejuaraan balap mobil. "Pit stop" adalah bagian penting utk meraih trophy kejuaraan balap mobil Formula one. Sangat menarik mengamati pertunjukkan balap mobil, tetapi tdk pernah terjadi seorang pembalap berhasil masuk finish tanpa melakukan "Pit stop" yg merupakan bagian dari strategi kemenangan, dimana pembalap berhenti sejenak (kurang dari 10 detik) memberi kesempatan mobil di belakangnya mendahuluinya. 

Mengapa ? Karena mobil balap harus mengisi bahan bakar, mengganti ban (jika hujan memakai ban anti slip), menerima arahan, melakukan penyegaran. Pekerja Pit Stop bisa mencapai 10 orang sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

Dalam kesibukan kita sehari-hari, "Pit Stop" bisa berwujud: cuti tahunan, mengikuti seminar, studi, pelatihan, membaca kitab suci dan  kembali menikmati relasi yang tenang dengan Tuhan Pencipta. Juga punya waktu menikmati hobi, bercanda dengan keluarga di rumah, berekreasi rutin dengan anak dan pasangan.  Tapi hal inilah yang seringkali kita lupakan. Nabi Samuel pernah mencatat, dalam kesibukannya dia mendengar suara: "Samuel berhentilah sebentar, supaya Aku bisa berbicara kepadamu..."

Julianto Simanjuntak

Posting Komentar untuk "Kembali Ke Titik Nol, Selalu Ada Harapan LK3"