I Don’t Need to Numb Things, I Need to Feel Things: Belajar Merasakan Luka Bersama Tuhan

Seorang pria sedang berdoa dengan penuh perenungan di depan Alkitab terbuka, menggambarkan proses menghadapi luka, emosi, dan pergumulan hidup bersama Tuhan.
Belajar Merasakan Luka, Bukan Mematikan Perasaan, Bersama Tuhan

“I don’t need to numb things, I need to feel things.”
“Aku tidak perlu membuat semuanya mati rasa; aku perlu merasakan apa yang sedang kurasakan.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh salah satu persoalan manusia modern yang sangat dalam.

Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal bisa dibuat lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih mudah. Ketika sedih, kita bisa scrolling. Ketika kecewa, kita bisa sibuk. Ketika kesepian, kita bisa mencari hiburan. Ketika terluka, kita bisa berpura-pura baik-baik saja. Bahkan ketika hati sedang berantakan, kita masih bisa mengunggah foto dengan caption, “God is good!”

Tidak ada yang salah dengan hiburan, pekerjaan, olahraga, musik, pertemanan, atau menikmati hidup. Masalahnya muncul ketika semua itu dipakai bukan untuk menjalani hidup, tetapi untuk melarikan diri dari apa yang sedang terjadi di dalam hati.
Di sinilah kalimat: “I don’t need to numb things, I need to feel things.”menjadi sangat relevan. Namun, dari perspektif iman Kristen, kalimat ini perlu diperluas:

Kita tidak dipanggil untuk mati rasa terhadap luka, tetapi juga tidak dipanggil untuk dikuasai oleh luka. Kita dipanggil untuk membawa perasaan kita kepada Tuhan dan membiarkan Dia bekerja di dalamnya.

Kita Tidak Selalu Membutuhkan Pelarian

Ada kalanya manusia tidak benar-benar ingin menyelesaikan masalah. Kita hanya ingin tidak merasakan masalah itu untuk sementara waktu.

Itulah yang disebut sebagai numbing—membuat diri mati rasa. Bentuknya bisa sangat beragam. Bukan hanya alkohol atau obat-obatan. Kadang-kadang numbing berbentuk:
  • terlalu sibuk supaya tidak sempat berpikir;
  • scrolling media sosial berjam-jam;
  • binge-watching sampai larut malam;
  • makan berlebihan;
  • belanja impulsif;
  • bermain game tanpa batas;
  • bekerja terus-menerus;
  • mencari validasi dari orang lain;
  • berpindah-pindah hubungan;
  • bercanda terus agar tidak perlu membicarakan luka;
bahkan menggunakan aktivitas pelayanan sebagai tempat bersembunyi dari masalah pribadi.Yang terakhir mungkin terdengar mengejutkan. Seseorang bisa sangat aktif di gereja, tetapi sebenarnya sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Bisa melayani setiap minggu, tetapi tidak pernah berani berkata: “Tuhan, sebenarnya saya sedang terluka.”

Bisa mengutip puluhan ayat, tetapi tidak pernah menangis di hadapan Tuhan. Bisa berkata, “Saya kuat,” padahal sebenarnya sedang kelelahan.

Dan di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Mungkin yang kita perlukan bukan sesuatu yang membuat kita tidak merasa. Mungkin kita perlu belajar merasakan dengan benar.
Baca Juga: Masa Sulit Bukan Hukuman: Tuhan Sedang Membentuk Versi Terbaik Hidupmu

Alkitab Tidak Mengajarkan Kita Menjadi Manusia Tanpa Perasaan

Ada pemahaman Kristen yang kadang keliru: Orang beriman seharusnya selalu kuat, selalu sukacita, selalu positif, dan tidak boleh terlalu sedih. Tetapi kalau itu benar, kita akan kesulitan menjelaskan kitab Mazmur.

Daud menangis.
Daud takut.
Daud kecewa.

Daud merasa ditinggalkan.
Daud marah.
Daud bertanya kepada Tuhan.
Daud bahkan pernah berkata:

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”
— Mazmur 13:2

Perhatikan sesuatu yang penting. Daud tidak sedang mengajarkan bahwa Tuhan benar-benar melupakannya. Daud sedang jujur mengenai apa yang ia rasakan. Dan justru kejujuran itulah yang kemudian membawanya kembali kepada iman.

Iman bukan berarti: “Saya tidak merasakan apa-apa.”
Iman berkata: “Saya merasakan semuanya, tetapi saya tidak akan membiarkan perasaan saya menjadi Tuhan saya.” Itu berbeda.
Baca Juga: Seberapa Banyak Kita Pernah Merasa Dikecewakan oleh Tuhan?

Yesus Sendiri Menangis

Salah satu ayat terpendek dalam Alkitab justru memiliki pesan yang sangat dalam:

“Maka menangislah Yesus.”
— Yohanes 11:35

Yesus menangis ketika berada di tengah kesedihan keluarga Lazarus. Padahal Yesus tahu Lazarus akan dibangkitkan. Yesus tahu akhir ceritanya. Tetapi pengetahuan tentang masa depan tidak membuat Yesus menjadi manusia tanpa emosi. Ini penting.

Mengetahui bahwa Tuhan berdaulat tidak berarti kita tidak boleh menangis.
Mengetahui bahwa Tuhan mempunyai rencana tidak berarti kita tidak boleh kecewa.
Mengetahui bahwa segala sesuatu akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja sekarang.

Roma 8:28 berbicara tentang kedaulatan Allah atas segala sesuatu.
Yohanes 11:35 menunjukkan bahwa di tengah proses itu, air mata manusia tetap nyata.

Jadi, menangis bukan tanda iman yang lemah. Kadang-kadang menangis justru merupakan bentuk kejujuran di hadapan Tuhan.
Baca Juga: Pikiran Bisa Membuat Sakit, Pikiran Juga Bisa Menyembuhkan: Apa Kata Alkitab dan Ilmu Kedokteran?

“Feel Things” Bukan Berarti Menuruti Semua Perasaan

Tetapi di sini kita harus berhati-hati. Kalimat “I need to feel things” jangan sampai diterjemahkan: “Kalau saya merasa marah, berarti saya boleh marah kepada siapa saja.”
Atau: “Kalau saya merasa ingin menyerah, berarti saya harus menyerah.”
Atau: “Kalau saya merasa tidak dicintai, berarti Tuhan memang tidak mencintai saya.”Tidak. Alkitab membedakan antara merasakan sesuatu dan menaati sesuatu. Perasaan adalah sesuatu yang nyata, tetapi perasaan bukan selalu sesuatu yang benar.

Kita bisa merasa ditolak ketika sebenarnya kita tidak ditolak.
Kita bisa merasa tidak dikasihi ketika sebenarnya kita dikasihi.
Kita bisa merasa Tuhan jauh ketika sebenarnya Tuhan tetap dekat.
Kita bisa merasa gagal total ketika sebenarnya kita sedang berada dalam proses.
Karena itu:

Perasaan harus didengarkan, tetapi tidak selalu harus dituruti.

Perasaan dapat menjadi sinyal, tetapi bukan selalu kompas.

Mazmur Mengajarkan Seni Membawa Perasaan kepada Tuhan

Salah satu keindahan kitab Mazmur adalah keterbukaannya. Pemazmur tidak selalu berbicara dengan bahasa yang rapi.

Ada sukacita.
Ada ketakutan.
Ada kemarahan.
Ada kesedihan.

Ada kebingungan.
Ada pertanyaan.
Ada pengharapan.

Bahkan dalam Mazmur 42:6, pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri:

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?”

Ini menarik. Pemazmur tidak berkata: “Aku tidak boleh merasa tertekan.”
Ia mengakui: “Jiwaku sedang tertekan.”

Tetapi kemudian ia mengarahkan jiwanya kepada Tuhan. Inilah salah satu prinsip penting kehidupan rohani:

Jangan menyangkal perasaanmu. Bawa perasaanmu kepada Tuhan.

Tuhan Tidak Takut dengan Air Mata Kita

Kadang-kadang kita takut menangis di hadapan Tuhan. Kita merasa harus berdoa dengan bahasa yang indah. Harus terdengar penuh iman. Harus mengatakan hal-hal positif.

Tetapi Alkitab memperlihatkan bahwa doa tidak selalu terdengar seperti pidato kemenangan. Kadang-kadang doa hanya berbunyi:

“Tuhan, saya capek.”
“Tuhan, saya kecewa.”
“Tuhan, saya tidak mengerti.”
“Tuhan, kenapa ini terjadi?”
“Tuhan, saya masih terluka.”

Dan itu bukan doa yang gagal. Itu bisa menjadi awal dari doa yang sangat jujur.
Mazmur 62:9 berkata:

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya.”

Perhatikan kata “curahkan.”
Bukan sembunyikan.
Bukan rapikan dulu.
Bukan pura-pura kuat dulu.

Curahkan. Ada sesuatu yang sangat indah di sana. Tuhan tidak meminta kita datang kepada-Nya dengan hati yang sudah selesai.

Kita datang kepada-Nya dengan hati yang sedang diproses.
Zaman Sekarang Mengajarkan Kita untuk Cepat-Cepat Menghilangkan Rasa Tidak Nyaman

Budaya modern sangat hebat dalam menciptakan distraksi.
Bosan sedikit, buka handphone.
Kesepian sedikit, buka media sosial.
Sedih sedikit, cari hiburan.
Stres sedikit, cari pelarian.
Tidak nyaman sedikit, ganti aktivitas.

Akhirnya kita menjadi generasi yang sangat terlatih untuk menghindari ketidaknyamanan. Masalahnya, hidup tidak bisa selalu nyaman.

WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami tekanan. Kesehatan mental juga mencakup kemampuan menghadapi stres kehidupan, berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dan tetap bertumbuh. (World Health Organization)

WHO juga mencatat bahwa respons terhadap stres dapat mencakup rasa takut, sedih, marah, tidak berdaya bahkan mati rasa; ketika kesulitan emosional menetap dan mengganggu kehidupan, seseorang dapat membutuhkan dukungan sosial maupun bantuan profesional. (EMRO)

Artinya, merasakan emosi bukan kegagalan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita meresponsnya.
Baca Juga: Patah Hati Bisa Merusak Jantung? Ini Penjelasan Sains dan Alkitab

Mati Rasa Bukan Sama dengan Sembuh

Bayangkan seseorang terluka. Kemudian ia diberikan obat bius. Rasa sakitnya hilang.
Pertanyaannya: Apakah lukanya sudah sembuh? Belum tentu. Ia hanya tidak merasakan sakitnya.

Ini gambaran sederhana tentang numbing. Kita bisa menghilangkan rasa sakit tanpa menyelesaikan sumber luka. Itulah sebabnya seseorang bisa terlihat baik-baik saja selama bertahun-tahun, tetapi kemudian suatu hari sesuatu yang kecil memicu ledakan emosi.

Bukan karena masalah kecil itu terlalu besar. Bisa jadi karena terlalu banyak hal yang tidak pernah diproses.

Literatur psikologi juga membedakan antara menekan atau menghindari emosi dan mengaturnya dengan sehat. Penghindaran pengalaman emosional dapat menjadi pola yang justru memperpanjang atau memperkuat kesulitan tertentu. (Simply Psychology)

Karena itu:

Sembuh bukan berarti tidak lagi merasa sakit. Sembuh berarti kita tidak lagi dikendalikan oleh rasa sakit itu.

Ada Perbedaan antara “Feel” dan “Dwell”

Ini bagian yang sangat penting.
Feel berarti merasakan.
Dwell berarti terus-menerus tinggal di dalamnya.

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk menyangkal kesedihan. Tetapi Alkitab juga tidak mengajarkan kita untuk menjadikan kesedihan sebagai identitas.
Ada perbedaan antara: “Saya sedang sedih.” dan “Saya adalah orang yang menyedihkan dan hidup saya akan selalu seperti ini.
”Yang pertama adalah pengakuan. Yang kedua adalah identitas.

Ada perbedaan antara:m“Saya mengalami kegagalan.” dan: “Saya adalah orang gagal.
”Yang pertama adalah peristiwa. Yang kedua adalah label terhadap diri.

Ada perbedaan antara: “Saya sedang terluka.” dan: “Saya tidak akan pernah sembuh.
”Yang pertama menggambarkan kondisi. Yang kedua membuat kesimpulan tentang masa depan.
Jangan ubah musim menjadi identitas.

Alkitab Mengajarkan: Rasakan, Bawa kepada Tuhan, Lalu Berjalan

Kita dapat melihat pola ini dalam banyak bagian Alkitab.

Akui apa yang terjadi

Jangan berbohong kepada diri sendiri.
Jika sedih, akui sedih.
Jika kecewa, akui kecewa.
Jika terluka, akui terluka.

Bawa kepada Tuhan

Jangan berhenti pada perasaan.
Curahkan isi hati kepada Tuhan.
Filipi 4:6 berkata:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Biarkan firman mengoreksi interpretasi kita

Perasaan berkata: “Tuhan meninggalkan saya.”
Firman berkata: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
(Ibrani 13:5)

Perasaan berkata: “Tidak ada harapan.”
Firman mengingatkan bahwa pengharapan kita tidak berdiri di atas keadaan, tetapi di dalam Allah.

Perasaan berkata: “Saya sendirian.”
Firman mengingatkan bahwa Tuhan hadir.

Ambil langkah yang benar

Iman bukan hanya merasakan.
Iman juga bergerak.

Kadang-kadang langkah iman itu adalah mengampuni.
Kadang-kadang meminta maaf.
Kadang-kadang beristirahat.
Kadang-kadang berbicara dengan orang yang dipercaya.

Kadang-kadang mencari konseling.
Kadang-kadang menetapkan batasan yang sehat.
Kadang-kadang melepaskan sesuatu yang memang harus dilepaskan.

Jangan Jadikan “Kuat” sebagai Alasan untuk Tidak Pernah Minta Tolong

Ada orang Kristen yang merasa meminta bantuan berarti kurang iman. Padahal Alkitab tidak mengajarkan individualisme rohani. Kita adalah tubuh Kristus.
Galatia 6:2 berkata:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”

Kalau seseorang sedang mengalami pergumulan emosional yang berat, berbicara dengan orang yang dewasa secara rohani, keluarga yang dipercaya, konselor, psikolog, atau profesional kesehatan mental bukan berarti ia meninggalkan Tuhan.

Justru mencari pertolongan dapat menjadi salah satu cara Tuhan memberikan pertolongan. WHO juga menekankan bahwa ketika tekanan emosional menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional bukanlah kelemahan. (EMRO)

Iman dan pertolongan profesional tidak harus dipertentangkan.
Tuhan dapat bekerja melalui doa.
Tuhan dapat bekerja melalui firman.
Tuhan dapat bekerja melalui komunitas.

Dan Tuhan juga dapat menggunakan tenaga profesional untuk menolong seseorang memahami dan menghadapi pergumulannya.

Bahkan Pelayanan Bisa Menjadi Tempat Kita Bersembunyi

Ini bagian yang mungkin paling menusuk bagi orang Kristen.
Kadang-kadang kita tidak numb dengan dunia.
Kita numb dengan aktivitas rohani.
Kita terus melayani supaya tidak sempat menghadapi diri sendiri.

Terus berkhotbah supaya tidak perlu mengakui bahwa kita sedang hancur.
Terus memimpin supaya tidak perlu mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan.
Terus mengatakan: “Tuhan baik!” tetapi tidak pernah berkata: “Tuhan, saya sedang tidak baik-baik saja.”

Padahal kedua kalimat itu bisa benar pada waktu yang sama. Tuhan tetap baik meskipun kita sedang tidak baik-baik saja. Itulah kedewasaan rohani.

Bukan berpura-pura bahwa hidup selalu baik. Tetapi tetap percaya kepada Tuhan ketika hidup sedang tidak baik.

Salib Menunjukkan Bahwa Tuhan Tidak Menghindari Penderitaan

Jika kita ingin memahami bagaimana iman Kristen memandang penderitaan, lihatlah Getsemani.
Yesus berkata:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”
— Matius 26:38

Yesus tidak berpura-pura.
Ia mengakui penderitaan-Nya.
Ia berdoa.
Ia menangis.
Ia berseru kepada Bapa.
Namun kemudian Ia berkata:

“Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
— Lukas 22:42

Di sinilah kita melihat keseimbangan yang luar biasa. Yesus merasakan penderitaan-Nya sepenuhnya, tetapi tidak membiarkan penderitaan menentukan ketaatan-Nya. Itulah iman.
Bukan: “Saya tidak merasakan apa-apa.”
Tetapi: “Saya merasakan semuanya, namun saya tetap percaya kepada Bapa.”

Jangan Takut dengan Air Mata

Ada orang yang sejak kecil diajarkan: “Jangan menangis.” “Laki-laki harus kuat.”
“Orang Kristen harus sukacita.” “Jangan terlalu emosional.” Akhirnya seseorang belajar menyimpan semuanya.

Sampai ia tidak tahu lagi bagaimana mengatakan: “Saya terluka.” Padahal air mata bukan musuh iman. Air mata tidak membatalkan iman.

Kesedihan tidak otomatis berarti tidak percaya Tuhan. Bahkan Yesus menangis. Yang menjadi persoalan bukan apakah kita pernah menangis. Pertanyaannya: Ke mana kita membawa air mata itu?

“Feel Things” dalam Perspektif Kristen

Kalimat “I don’t need to numb things, I need to feel things” dapat kita terjemahkan secara rohani menjadi:

“Saya tidak perlu melarikan diri dari apa yang saya rasakan. Saya perlu membawa apa yang saya rasakan kepada Tuhan.”

Saya boleh sedih. Tetapi saya tidak harus kehilangan pengharapan.
Saya boleh kecewa. Tetapi saya tidak harus berhenti percaya.
Saya boleh menangis. Tetapi saya tidak harus menyerah.
Saya boleh marah. mTetapi saya tidak harus berdosa.
Saya boleh terluka. Tetapi saya tidak harus menjadi pahit.

Saya boleh takut. Tetapi saya tidak harus dikuasai ketakutan.
Saya boleh merasa sendirian. Tetapi saya tidak harus menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan saya.
Perasaan saya nyata, tetapi Tuhan lebih besar daripada perasaan saya.

Jangan Membius Luka; Biarkan Tuhan Menyentuhnya

Ada luka yang tidak sembuh karena kita terlalu sering membukanya. Tetapi ada juga luka yang tidak sembuh karena kita tidak pernah membiarkannya disentuh.

Kita tutup.
Kita simpan.
Kita sibukkan diri.
Kita tertawakan.

Kita spiritualisasikan.
Kita katakan: “Sudahlah, lupakan saja.” Tetapi Tuhan mungkin sedang berkata: “Bawa itu kepada-Ku.”
Mazmur 34:19 berkata:

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.”

Perhatikan: dekat kepada orang yang patah hati. Bukan hanya dekat kepada orang yang sedang tersenyum.

Tuhan hadir di gereja.
Tuhan hadir dalam ibadah.
Tuhan hadir ketika kita bersukacita.

Tetapi Tuhan juga hadir di kamar ketika kita menangis sendirian.
Tuhan hadir ketika kita tidak tahu harus berkata apa.
Tuhan hadir ketika doa kita hanya terdiri dari air mata.

Jangan Berhenti pada Luka

Ada bahaya lain. Setelah belajar menerima emosi, kita bisa jatuh ke ekstrem berikutnya: terlalu fokus pada perasaan.

Setiap keputusan berdasarkan mood.
Setiap tindakan berdasarkan emosi.
Setiap konflik berdasarkan “apa yang saya rasakan.”

Ini juga tidak sehat. Karena orang yang selalu mengikuti perasaan akhirnya menjadi budak perasaan.
Alkitab berkata:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
— Amsal 4:23

Hati perlu dijaga. Bukan disembah.
Perasaan perlu didengar. Bukan dipertuhankan.

Kedewasaan Rohani Bukan Mati Rasa

Kedewasaan rohani bukan ketika seseorang sudah tidak bisa terluka.
Kedewasaan rohani adalah ketika seseorang bisa terluka tanpa menjadi pahit.

Bisa kecewa tanpa meninggalkan Tuhan.
Bisa menangis tanpa kehilangan pengharapan.
Bisa marah tanpa membenci.
Bisa gagal tanpa kehilangan identitas.

Bisa ditolak tanpa kehilangan nilai diri.
Bisa mengalami kehilangan tanpa kehilangan iman. Itulah kedewasaan.

Karena tujuan Injil bukan membuat kita menjadi manusia tanpa emosi. Kristus datang untuk menebus seluruh manusia—pikiran, kehendak, tubuh, relasi, dan juga kehidupan emosional kita.

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Mungkin hari ini ada sesuatu yang selama ini Anda hindari. Tidak harus sesuatu yang besar.
Mungkin luka lama.
Kekecewaan.
Kegagalan.
Penolakan.
Kehilangan.
Hubungan yang rusak.

Rasa bersalah.
Kemarahan.
Kesepian. Atau mungkin kelelahan yang selama ini Anda sembunyikan di balik kalimat: “Saya baik-baik saja.”

Cobalah berhenti sejenak. Jangan langsung mencari distraksi.
Duduklah.
Bernapas.
Berdoa.
Dan katakan kepada Tuhan dengan jujur:

“Tuhan, ini yang sebenarnya saya rasakan.”

Tidak perlu bahasa yang indah.
Tidak perlu berpura-pura kuat.
Tidak perlu menjadi versi rohani dari diri Anda.

Datanglah sebagai diri Anda.
Kemudian tanyakan: “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan melalui perasaan ini?”
Bukan: “Tuhan, bagaimana supaya saya tidak merasakan ini lagi?”
Tetapi: “Tuhan, bagaimana saya dapat melewati ini bersama-Mu?” Itu pertanyaan yang berbeda.

Penutup: Rasakan, Tetapi Jangan Tinggal di Sana

“I don’t need to numb things, I need to feel things.” Kalimat ini bukan ajakan untuk tenggelam dalam kesedihan.
Ini bukan pembenaran untuk mengikuti semua emosi.
Ini bukan alasan untuk hidup berdasarkan mood.
Ini adalah ajakan untuk berhenti melarikan diri dari kenyataan batin kita.
Dan dalam terang Alkitab, kalimat itu dapat menjadi lebih dalam:

Saya tidak perlu mematikan perasaan saya. Saya perlu membawanya kepada Tuhan.

Karena Tuhan tidak meminta kita datang kepada-Nya sebagai manusia yang tidak pernah terluka. Ia mengundang kita datang dengan hati yang jujur.

Daud datang dengan air mata.
Yeremia datang dengan keluhan.
Ayub datang dengan pertanyaan.
Yesus datang ke Getsemani dengan kesedihan.

Dan kita pun boleh datang kepada Tuhan dengan hati yang apa adanya. Tetapi jangan lupa: Getsemani bukan akhir cerita.
Ada salib.
Ada kubur.
Dan ada kebangkitan.

Maka ketika hari ini hati Anda sedang sakit, jangan buru-buru mencari sesuatu untuk membuat Anda mati rasa. Rasakan. Akui. Bawa kepada Tuhan. Proses bersama-Nya. Karena mungkin Tuhan tidak sedang meminta Anda menjadi lebih kebal.

Mungkin Tuhan sedang mengajar Anda menjadi lebih jujur, lebih dewasa, lebih bergantung kepada-Nya, dan lebih hidup.

Jangan matikan rasa sakit hanya supaya terlihat kuat.
Bawalah rasa sakit itu kepada Kristus, karena di dalam Dia luka tidak harus menjadi identitas dan air mata tidak harus menjadi akhir cerita.

Refleksi untuk Hari Ini

Coba jawab lima pertanyaan ini dengan jujur:

  1. Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan sekarang?

  2. Apa yang selama ini saya gunakan untuk membuat diri saya mati rasa?

  3. Apakah saya sedang membawa perasaan saya kepada Tuhan atau justru melarikan diri dari-Nya?

  4. Apa yang firman Tuhan katakan yang berbeda dari apa yang sedang saya rasakan?

  5. Apa satu langkah sehat yang Tuhan ingin saya lakukan hari ini?

Mungkin jawabannya tidak langsung membuat semuanya berubah. Tetapi kejujuran adalah awal yang baik. Karena terkadang mujizat pertama bukan ketika masalah langsung hilang.

Mujizat pertama adalah ketika kita akhirnya berani berhenti bersembunyi dan berkata: “Tuhan, ini saya. Dan ini yang sedang saya rasakan.” Dan di sana, kita menemukan bahwa Dia sudah ada di sana sejak awal.

Catatan Penting

Merasakan emosi secara sehat bukan berarti sengaja memperpanjang penderitaan atau menolak pertolongan. Jika kesedihan, kecemasan, trauma, mati rasa, atau tekanan emosional terus-menerus mengganggu tidur, pekerjaan, relasi, aktivitas sehari-hari, atau keselamatan diri, jangan menghadapinya sendirian. Berbicaralah dengan orang yang dapat dipercaya dan pertimbangkan bantuan profesional. WHO menekankan bahwa kondisi kesehatan mental dapat ditangani dan mencari bantuan bukan tanda kelemahan. (World Health Organization)

Kekristenan tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang mati rasa. Kekristenan mengajarkan kita membawa seluruh rasa—sukacita, kesedihan, ketakutan, luka, dan kekecewaan—kepada Kristus, lalu membiarkan firman Tuhan membentuk cara kita meresponsnya.

Jangan hanya membaca. Mari bertumbuh.
LOGOS HIDUP hadir untuk menolong kita berpikir secara alkitabiah, hidup dalam kebenaran, dan bertumbuh dalam Kristus. Jika artikel ini memberkati Anda, bagikan kepada seseorang yang mungkin sedang berjuang diam-diam.

Posting Komentar untuk "I Don’t Need to Numb Things, I Need to Feel Things: Belajar Merasakan Luka Bersama Tuhan"