Gereja Semakin Menjamur, Tapi Siapa yang Menabur?
Ketika Pertumbuhan Jemaat Lebih Dipengaruhi Panggung daripada Penginjilan
Ada masa ketika orang datang ke gereja karena lapar akan firman.
Sekarang, sebagian datang karena lapar… akan acara.
Iya, gereja-gereja makin banyak. Plang gereja di sudut-sudut kota makin berwarna. Dari gereja yang pakai lampu LED seharga sepeda motor, sampai gereja yang sound system-nya bisa bikin tetangga ikut dengar tanpa perlu hadir. Tapi pertanyaannya:
Apakah gereja bertambah karena Injil diberitakan?
Atau karena gereja makin mirip mall rohani?
Gereja atau Sarana Hiburan?
Mari jujur sebentar.
Kadang beberapa gereja terlihat seperti versi rohani dari tempat hiburan:
-
Lampu panggung setara konser band nasional
-
Jam ibadah yang fleksibel seperti bioskop: 08.00, 10.00, 12.00, 17.00, 19.00
-
Kafe gereja dengan kopi yang rasanya lebih suci daripada iman jemaat
-
Worship leader yang tampil seperti audisi The Voice
Dan hasilnya? Kursi penuh. Parkiran meluap. Media sosial banjir testimoni.
Tapi sebelum kita bertepuk tangan, mari tarik napas dulu.
Pertumbuhan angka tidak selalu pertumbuhan jiwa.
Dari Amanat Agung ke Amanat “Asyik”
Yesus tidak pernah berkata:
“Pergilah ke seluruh dunia dan buatlah program yang paling seru supaya orang tertarik.”
Yang Dia katakan adalah:
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”
(Matius 28:19)
Bikin murid itu tidak instan. Tidak bisa dicapai dengan lighting mewah atau musik jedag-jedug yang bikin kursi bergetar. Murid itu dibentuk dengan:
-
Firman yang diajarkan
-
Pemuridan yang konsisten
-
Kehidupan yang diteladankan
Masalahnya, sebagian gereja lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan esensinya.
Akhirnya injil dipoles. Teguran disensor. Salib dipinggirkan. Yang ditonjolkan adalah “rasa nyaman”.
Padahal, Injil tidak selalu nyaman.
Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa mengikuti Dia itu memikul salib, bukan memeluk bantal empuk.
Fenomena Gereja “Starbucks”
Ada gereja yang ibadahnya lengkap:
-
AC dingin
-
Musik keren
-
Ruang foto estetik
-
Minum latte sebelum ibadah
Tidak ada yang salah dengan fasilitas. Serius, tidak ada.
Masalahnya muncul kalau gereja berubah menjadi “Starbucks rohani”—
tempat nongkrong yang kebetulan ada firman lima menit di tengah-tengah acara.
Ketika jemaat datang karena hiburannya, bukan Tuhannya, gereja kehilangan roh dan misinya.
Gereja yang Sehat Itu Bertumbuh, Bukan Menggemuk
Ada perbedaan besar antara bertambah banyak dan bertambah dewasa.
Seekor sapi yang gemuk itu bertambah besar—tapi bukan berarti sehat.
Demikian pula gereja.
Kalau gereja bertambah karena hiburan, itu hanya gemuk.
Tapi kalau bertambah karena Injil, itu baru bertumbuh.
Pertumbuhan sejati selalu menghasilkan:
-
Pertobatan yang nyata
-
Perubahan karakter
-
Kerinduan memberitakan Injil
-
Jemaat yang kuat dalam firman, bukan hanya kuat menghafal lirik pujian
Apa yang Sebenarnya Orang Butuhkan?
Orang zaman sekarang sudah kenyang hiburan.
Yang mereka butuhkan justru:
-
Kebenaran yang jelas
-
Firman yang menegur
-
Pemuridan yang membentuk
-
Gereja yang mengasihi tanpa memanjakan
Ironisnya, banyak gereja takut menyampaikan firman yang tegas karena khawatir jemaat pindah ke gereja sebelah yang AC-nya lebih dingin.
Tapi kalau gereja hanya fokus membuat orang betah, lama-lama gereja berubah jadi panggung, dan jemaat berubah jadi penonton, bukan murid.
Saatnya Kembali ke Esensi
Gereja mula-mula tidak punya panggung LED.
Mereka tidak punya band lengkap.
Kursi empuk pun tidak.
Yang mereka punya hanyalah:
-
Injil
-
Doa
-
Persekutuan
-
Kuasa Roh Kudus
Namun mereka mengguncang dunia.
Mungkin gereja modern perlu belajar dari sini:
kekuatan gereja bukan pada apa yang terlihat, tetapi pada apa yang diajarkan dan dihidupi.
Penutup: Gereja Boleh Modern, Tapi Tidak Boleh Kehilangan Mandat
Tidak salah punya gereja yang kreatif.
Tidak salah punya musik yang bagus.
Tidak salah punya fasilitas yang nyaman.
Yang salah adalah ketika semua itu menjadi pusat, sementara Injil hanya jadi bumbu.
Gereja akan tetap penuh jika panggungnya menarik.
Tapi gereja hanya akan berdampak jika Injilnya murni.
Karena ujungnya, Tuhan tidak mencari gereja yang ramai—
Tuhan mencari gereja yang setia.

Posting Komentar untuk "Gereja Semakin Menjamur, Tapi Siapa yang Menabur?"