Ketika Kebenaran Membuat Kita Tidak Disukai
Ada satu pertanyaan kecil namun terasa seperti pukulan halus dari Rasul Paulus, yang tercatat dalam Galatia 4:16:
“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?”
Jika diucapkan hari ini, mungkin bunyinya seperti ini:
"Serius, cuma karena aku jujur, kamu jadi nggak suka sama aku?"
Sebagai seorang Kristen yang sering berada di tengah kepalsuan dunia, saya bisa bilang: Ya, Paulus, kami paham apa yang Anda rasakan.
Kebenaran Itu Tidak Selalu Manis
Di dunia yang serba ingin cepat, praktis, dan nyaman, kebenaran sering kali tidak muat dalam selera kebanyakan orang. Kebenaran itu kadang pahit, kadang menohok, kadang memaksa kita untuk bercermin. Dan, siapa sih yang suka bercermin ketika wajah sedang acak-acakkan?
Itulah masalah di jemaat Galatia. Paulus sudah menaburkan Injil yang benar. Tapi kemudian datanglah para pengajar yang menambahkan aturan-aturan “tambahan”, dan jemaat pun mulai goyah. Ketika Paulus kembali menegur, ia dianggap terlalu keras, terlalu tegas, bahkan—ironisnya—musuh.
Teguran yang Disalahpahami
Kalau dipikir-pikir, Paulus tidak sedang marah. Ia sedang peduli. Itulah bedanya orang yang menyampaikan kebenaran karena cinta, dan orang yang bicara keras karena benci. Paulus memilih jalur yang tidak populer: menegur.
Dan begitulah seringnya dalam hidup.
Kita tegur teman—dibilang sok suci.
Kita luruskan fakta—dibilang cari sensasi.
Kita ingatkan bahaya—dibilang menggurui.
Padahal, kalau diam, salah. Kalau bicara, dibilang musuh. Serba salah bukan?
Kebenaran dan Relasi: Dua Hal yang Sering Bertabrakan
Salah satu drama dalam relasi manusia adalah ini:
kita ingin disukai, tapi kebenaran kadang membuat kita tidak disukai.
Paulus sedang berada di tengah drama itu. Ia tahu bahwa berkata benar mungkin akan membuat jarak dengan jemaat Galatia. Tapi ia tetap memilih jalannya.
Kenapa?
Karena bagi Paulus, kasih sejati tidak membiarkan seseorang tetap berada dalam kebohongan. Kasih yang sejati selalu berjalan seiring dengan kebenaran.
Di sinilah letak kedalaman Galatia 4:16.
Ayat itu bukan sekadar keluhan Paulus.
Ini adalah undangan bagi kita untuk memeriksa respon hati:
Apakah kita marah pada orang yang mengingatkan, atau justru kita bersyukur?
Menjadi Pecinta Kebenaran, Bukan Pengejar Validasi
Dunia modern suka membuat kita menjadi people pleaser—pencari pujian, pengejar validasi. Kita ingin disukai semua orang, ingin terlihat sopan, ingin selalu “ramah” meskipun kebenarannya bengkok.
Tetapi Paulus mengajak kita untuk berani:
Berani mengatakan yang benar, meski tidak populer.
Berani menerima yang benar, meski tidak nyaman.
Kebenaran memang tidak selalu membuat kita trending.
Tapi kebenaran akan membuat kita bertumbuh.
Penutup: Kebenaran yang Membebaskan
Pada akhirnya, Galatia 4:16 mengajak kita menilai ulang hubungan kita dengan kebenaran:
- Apakah kita marah ketika ditegur?
- Apakah kita tersinggung ketika diluruskan?
- Apakah kita menjauhi orang yang membawa terang, hanya karena silau?
Kebenaran tidak datang untuk menjadikan kita musuh, tetapi untuk menjadikan kita merdeka.
Dan kadang, mereka yang paling jujur kepada kita adalah mereka yang paling peduli.
Jadi, lain kali ada seseorang yang dengan tulus mengingatkan kita, jangan buru-buru curiga.
Barangkali, seperti Paulus, mereka hanya ingin kita tetap berjalan di jalur yang benar.

Posting Komentar untuk "Ketika Kebenaran Membuat Kita Tidak Disukai"