Gereja Terbelah, Jemaat Pindah: Antara Panggilan Roh atau Pindah Parkiran?
Pernah dengar kalimat ini?
“Kami pindah gereja, karena di sana lebih bertumbuh.”
Kalimat yang terdengar sangat rohani. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, kadang yang dimaksud “bertumbuh” itu bukan iman—melainkan AC lebih dingin, musik lebih asyik, parkiran lebih luas, dan khotbah lebih singkat.
Fenomena perpecahan gereja dan jemaat yang berpindah-pindah ini bukan cerita baru. Ini bukan tren musiman. Ini sudah jadi ritual tak tertulis dalam kehidupan bergereja modern.
Mari kita bahas dengan santai. Tidak untuk menghakimi. Tapi untuk bercermin.
Gereja Terbelah: Drama Lama, Pemeran Baru
Sejak gereja mula-mula, perpecahan bukan hal asing. Paulus bahkan harus menegur jemaat Korintus yang mulai membuat “klub rohani”:
“Yang seorang berkata: Aku dari golongan Paulus; yang lain berkata: Aku dari golongan Apolos.”
— 1 Korintus 1:12
Versi modernnya kira-kira begini:
“Aku dari gereja A, lebih Alkitabiah.”
“Aku dari gereja B, lebih relevan.”
“Aku dari gereja C, lebih diurapi.”
Masalahnya bukan pada perbedaan gaya. Masalahnya adalah ketika perbedaan berubah menjadi identitas, dan identitas berubah menjadi tembok pemisah.
Padahal gereja bukan merek. Gereja adalah tubuh.
“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak… demikian pula Kristus.”
— 1 Korintus 12:12
Tubuh tidak pernah sehat kalau tangannya memutuskan pindah ke tubuh lain hanya karena kakinya bikin kesal.
Jemaat Pindah Gereja: Roh Kudus atau Roh Baper?
Mari jujur sebentar.
Tidak semua perpindahan gereja itu salah. Ada alasan yang sehat:
Ajaran menyimpang
Kepemimpinan abusif
Tidak ada ruang pertumbuhan
Perpindahan domisili
Tapi… mari kita jujur lagi, lebih dalam.
Banyak perpindahan terjadi karena:
Tersinggung sedikit
Tidak dilibatkan pelayanan
Teguran firman terasa “menyentil”
Pendeta baru tidak sehumor pendeta lama
Firman Tuhan mengingatkan:
“Sebab akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya sendiri untuk memuaskan keinginan telinganya.”
— 2 Timotius 4:3
Bahasa zaman sekarang: pindah gereja karena khotbahnya tidak sesuai selera.
Padahal iman bukan tentang selera. Iman sering kali bertumbuh justru saat kita tidak nyaman.
Ketika Gereja Jadi Konsumen, Bukan Komunitas
Tanpa sadar, gereja hari ini sering diperlakukan seperti:
Mall rohani
Platform konten
Tempat healing mingguan
Kalau tidak puas? Tinggal pindah.
Yesus tidak pernah memanggil murid dengan kalimat:
“Ikutlah Aku, kalau cocok.”
Yesus berkata:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.”
— Lukas 9:23
Masalahnya, menyangkal diri itu tidak viral. Yang viral adalah pindah tempat tanpa konflik batin.
Perpecahan: Luka yang Sering Dibungkus Bahasa Rohani
Perpecahan gereja sering dibungkus dengan istilah:
“Panggilan Tuhan”
“Visi baru”
“Pelayanan yang berbeda”
Padahal di balik itu, sering ada:
Ego yang terluka
Ambisi yang tidak tertampung
Konflik yang tidak diselesaikan dengan dewasa
Alkitab tidak menutup mata soal ini:
“Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”
— Yakobus 3:16
Perpecahan jarang dimulai dari doktrin. Biasanya dimulai dari hati yang tidak mau direndahkan.
Lalu Haruskah Kita Bertahan di Gereja yang Tidak Sempurna?
Jawabannya sederhana tapi tidak mudah: iya, selama Injil masih diberitakan dengan benar.
Karena gereja sempurna hanya ada satu—dan itu pun masih menunggu kedatangan Kristus kembali.
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”
— Efesus 4:3
Kesatuan bukan berarti tanpa konflik. Kesatuan berarti konflik yang dihadapi bersama, bukan dihindari dengan koper rohani.
Penutup: Gereja Bukan Tempat Lari, Tapi Tempat Bertumbuh
Gereja bukan tempat orang sempurna berkumpul. Gereja adalah ruang latihan kasih, dan latihan itu sering melelahkan.
Kalau hari ini kamu tergoda pindah gereja, mungkin pertanyaannya bukan:
“Apakah gereja ini masih cocok untukku?”
Tetapi:
“Apa yang Tuhan sedang bentuk dalam diriku di sini?”
Karena iman yang dewasa tidak selalu mencari tempat yang nyaman—
tetapi tempat di mana karakter dibentuk, ego diruntuhkan, dan kasih dipraktikkan.
Dan itu, sayangnya, hampir tidak pernah instan.

Posting Komentar untuk "Gereja Terbelah, Jemaat Pindah: Antara Panggilan Roh atau Pindah Parkiran?"