Mengapa Ada Orang Tidak Suka Natal?

Natal

Natal selalu digambarkan sebagai momen damai dan sukacita. Namun realitas sosial menunjukkan hal lain: ada kelompok dan individu yang menolak perayaan Natal, mempersoalkan simbolnya, mengganggu ibadah, bahkan melakukan tindakan perusakan. Fenomena ini bukan hal baru; ia muncul berulang di berbagai negara, termasuk di wilayah mayoritas Kristen.

Mengapa ini terjadi? Apa akar emosinya? Dan bagaimana iman Kristen membaca kenyataan ini?

Faktor Sosiologis: Ketakutan terhadap Identitas Budaya

Secara global, para peneliti hubungan antaragama mencatat bahwa sentimen anti-Natal sering muncul dari rasa terancamnya identitas budaya lokal oleh simbol-simbol asing.

Di beberapa negara Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, laporan human-rights tahun-tahun terakhir mencatat pembatasan perayaan Natal di ruang publik karena dianggap “bukan budaya lokal”.

Intinya:
Natal dipandang bukan sekadar hari raya agama, tetapi simbol peradaban lain.

Padahal:
Natal bukan ekspansi budaya Barat—melainkan perayaan atas kelahiran Sang Juru Selamat.

Faktor Teologis: Ketakutan terhadap “Kristenisasi”

Fakta lapangan dalam kajian Conflict Studies Asia menunjukkan bahwa salah satu alasan penolakan terbesar adalah ketakutan bahwa ibadah Natal bisa mengajak orang pindah agama.

Beberapa temuan umum yang sering muncul dalam penelitian:

  • Kebingungan antara ibadah dan misi agresif
  • Ketidakpahaman tentang makna teologis Natal
  • Narasi provokatif dari tokoh tertentu yang mengasosiasikan Natal dengan ancaman iman lain.

Ketakutan ini sering kali tidak berbasis fakta, tetapi berbasis isu turun-temurun yang tidak pernah ditinjau ulang.

Faktor Politik: Agama sebagai Komoditas

Penelitian dari berbagai lembaga seperti Pew Research, CSIS, dan International Crisis Group menyebutkan bahwa politisasi agama sering memanaskan ketegangan setiap akhir tahun.

Dalam dinamika politik identitas:

  • Kelompok tertentu mendapatkan simpati publik dengan menunjukkan sikap keras terhadap simbol agama lain
  • Ritual keagamaan dianggap sebagai alat penguatan massa
  • Simbol Natal menjadi komoditas, bukan lagi soal iman.

Akibatnya, penolakan perayaan Natal bukan lahir dari kebencian personal—melainkan strategi kelompok.

Faktor Psikologis: Kebencian Kolektif

Kebencian tidak lahir dalam semalam. Ia bertumbuh dari:

  • Prasangka
  • Trauma sejarah
  • Stereotipe agama
  • Ketidakpahaman doktrin
  • Narasi “kami versus mereka”.

Alkitab sendiri sudah memperingatkan dinamika kebencian kolektif terhadap umat percaya:

“Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku.”
Yohanes 15:18

Nafsu kebencian bukan sekadar fenomena sosial—ia merupakan realitas spiritual yang sudah dinubuatkan Yesus.

Faktor Ekonomi: Sentimen Anti-Komersialisasi

Di negara-negara Barat, penolakan terhadap Natal justru sering datang dari kelompok sekuler yang muak dengan komersialisasi berlebihan.

Fakta yang tercatat dalam survei Gallup dan YouGov:

  • Banyak orang kecewa karena Natal lebih identik dengan belanja daripada kelahiran Kristus
  • Beberapa aktivis anti-konsumerisme memprotes simbol Natal di ruang publik
  • Sebagian memilih menolak dekorasi atau festival karena dianggap “memaksa konsumsi”.

Anehnya, di negara Kristen sendiri Natal diserang karena dianggap terlalu komersial, sementara di negara non-Kristen Natal diserang karena dianggap terlalu religius.

Dua sisi ekstrem — satu korban: perayaan kelahiran Kristus.

Bentuk-Bentuk Gangguan Ibadah Kristen (Fakta Umum Global)

Dalam laporan-laporan global kebebasan beragama (Pew Research 2023, Open Doors, USCIRF), bentuk gangguan Natal biasanya termasuk:

  • Pembubaran ibadah dengan alasan administratif
  • Pelarangan penggunaan gedung ibadah
  • Pelarangan dekorasi atau simbol Natal
  • Intimidasi dalam bentuk protes atau ancaman
  • Perusakan pohon Natal, spanduk, atau ornamen.

Fakta penting: gangguan ini terjadi baik di negara mayoritas Kristen maupun non-Kristen, meskipun dengan pola berbeda.

Perspektif Iman: Mengapa Kebencian Itu Ada?

Kebencian terhadap umat Tuhan bukan hal baru. Bahkan sejak kelahiran Yesus, Herodes ingin membunuh-Nya (Matius 2:16). Ini menunjukkan:

Terang selalu mengusik kegelapan.

Alkitab memberi kerangka teologis tentang asal-usul kebencian:

Kebencian lahir dari ketidaktahuan

“Barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan.”
1 Yohanes 2:11

Kegelapan di sini bukan sekadar moral, tetapi ketidaktahuan akan kebenaran.

Kebencian lahir dari iri hati dan ketakutan

“Karena iri hati orang Farisi … mereka berusaha membinasakan Dia.”
Markus 15:10

Ketakutan kehilangan pengaruh adalah sumber kebencian terbesar dalam sejarah agama.

Kebencian adalah tanda bahwa dunia menolak Kristus

“Kegelapan tidak menguasainya.”
Yohanes 1:5

Meskipun dibenci, terang tidak bisa dipadamkan.

Bagaimana Sikap Orang Kristen?

Tetap merayakan dengan iman

“Janganlah kamu takut, sebab aku memberitakan kepadamu kesukaan besar.”
Lukas 2:10

Natal tetap harus menjadi sukacita, bukan ketakutan.

Hadapi kebencian dengan kasih

“Kalau aku bercakap-cakap dengan bahasa malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku tidak berguna.”
1 Korintus 13:1

Kasih adalah respons Kristen yang paling subversif terhadap kebencian.

Tegas namun tidak agresif

Pembelaan hukum boleh dilakukan, tetapi tanpa kekerasan.

Mencerdaskan umat

Semakin umat memahami iman, semakin sulit mereka diprovokasi.

Terus menjadi terang

Kebencian memerlukan lawannya: terang.

Penutup: Natal Tidak Bisa Dipadamkan

Orang boleh tidak suka Natal.
Simbol bisa dirusak.
Ibadah bisa diganggu.
Namun pesan Natal tidak bisa dibungkam.

Natal bukan sekadar tanggal atau tradisi.
Natal adalah deklarasi: Allah hadir di tengah manusia, bahkan di dunia yang membenci-Nya.

Dan seperti janji di Yohanes 1:5:

“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan,
dan kegelapan tidak menguasainya.”

Posting Komentar untuk "Mengapa Ada Orang Tidak Suka Natal?"