Ada Tiga Salib. Salib Mana yang Saya Beritakan?
Bukit itu sunyi, tapi kisahnya ribut sampai hari ini. Namanya Golgota, tempat eksekusi paling brutal dalam sejarah manusia. Hari itu ada tiga salib berdiri. Bukan satu. Tiga.
Di tengah ada Yesus Kristus,di kanan-kiri-Nya dua penjahat. Tiga salib, tiga manusia dan tiga sikap terhadap hidup. Dan, kalau jujur, tiga tipe iman yang masih berkeliaran sampai hari ini.
Pertanyaannya sederhana tapi agak mengganggu: Salib mana yang sebenarnya kita beritakan?
Salib Pertama: Salib Sang Penjahat yang Mengutuk
Salah satu penjahat yang disalibkan ikut bersuara. Tapi bukan suara pertobatan. Ia berkata dengan nada sinis: "Bukankah Engkau Mesias? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"Kedengarannya seperti doa, tapi sebenarnya ejekan. Ini tipe manusia yang ingin mujizat tanpa pertobatan. Ingin pertolongan tanpa perubahan hidup. Ingin Yesus sebagai tukang servis masalah pribadi.
Kalau bahasa gaulnya: Yesus dijadikan customer service langit. Masalah datang? Telepon Tuhan. Masalah selesai? Tuhan boleh istirahat lagi.
Ironisnya, model iman seperti ini tidak langka. Banyak orang suka salib yang menyelamatkan situasi, tapi bukan salib yang mengubah hati. Salib jadi alat pelarian, bukan tempat pertobatan.
Salib Kedua: Salib Sang Penjahat yang Bertobat
Penjahat yang satu lagi berbeda. Ia tidak ikut mengejek. Ia justru menegur temannya. Kurang lebih pesannya begini: "Kita memang pantas dihukum. Tapi Dia tidak." Ini pengakuan yang jarang kita dengar di zaman sekarang: pengakuan bersalah. Tidak menyalahkan sistem, tidak menyalahkan masa kecil dan tidak menyalahkan pemerintah, pasangan, ekonomi, atau zodiak.Ia cuma bilang: "Saya salah." Lalu ia menoleh kepada Yesus Kristus dan berkata: "Ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja."
Tidak ada teologi panjang, tidak ada seminar iman dan tidak ada ritual rumit. Hanya satu kalimat pendek yang keluar dari hati yang sadar dirinya hancur. Dan jawabannya mengejutkan. "Hari ini juga engkau akan bersama Aku di Firdaus."
Satu kalimat, satu pengampunan dan satu kehidupan yang berubah bahkan di menit terakhir.
Salib Ketiga: Salib Yesus
Di tengah berdiri salib yang berbeda. Ini bukan salib kriminal, ini bukan hukuman karena dosa pribadi. Ini salib pengorbanan.Salib tempat Yesus Kristus menanggung dosa orang lain. Yang menarik, dunia sering salah fokus. Banyak orang kagum pada penderitaan salib. Film dibuat. Lukisan dilukis. Musik ditulis. Tapi inti salib bukan sekadar penderitaan. Intinya adalah penggantian. Yang bersalah dibebaskan dan yang tidak bersalah dihukum.
Itu sebabnya salib bukan sekadar simbol agama. Ia adalah skandal terbesar dalam sejarah moral manusia. Orang benar mati untuk orang berdosa.
Masalahnya: Kita Kadang Mengabarkan Salib yang Salah
Di banyak mimbar, di banyak konten rohani, salib sering berubah fungsi. Kadang salib dijadikan:simbol motivasi hidup
aksesori spiritual
logo agama
cerita sedih yang dramatis
kamu kuat
kamu luar biasa
kamu bisa menyelamatkan dirimu sendiri
Jadi, Salib Mana yang Kita Beritakan?
Apakah kita memberitakan: Salib pertama — salib yang hanya mencari mukjizat? Atau Salib kedua — salib yang lahir dari pertobatan? Atau Salib ketiga — salib Yesus Kristus, tempat kasih dan keadilan bertabrakan sekaligus berdamai?Di bukit Golgota sebenarnya hanya ada satu Injil. Bukan Injil kenyamanan. Bukan Injil keberuntungan. Tapi Injil tentang seorang Raja yang memilih mati supaya para pemberontak bisa pulang.
Dan sejak hari itu, dunia terus bertanya — kadang dengan sadar, kadang tidak: Salib mana yang sebenarnya kita pilih? Dan lebih jujur lagi: Salib mana yang selama ini kita beritakan?

Posting Komentar untuk "Ada Tiga Salib. Salib Mana yang Saya Beritakan?"