Pendeta, Ustaz, dan Popularitas: Tuhan atau Followers?

 

pendeta jaman now

Ketika Mimbar Bertemu Algoritma

Di zaman dulu, seorang pemuka agama dikenal karena kedalaman ajaran dan keteladanan hidupnya. Hari ini? Sering kali karena jumlah followers. Jumlah subscriber, jumlah viewers dan jumlah viral clip.

Agama kini hidup di era algoritma. Dan pertanyaannya mulai terasa tidak nyaman: Apakah pemimpin rohani sedang menggiring orang kepada Tuhan, atau sedang membangun audiens?
Media sosial mengubah hampir semua hal. Politik berubah, bisnis berubah dan hiburan berubah. Agama juga ikut berubah. Hari ini kita melihat fenomena baru:
  • pendeta dengan jutaan subscribers

  • ustaz dengan konten viral setiap minggu

  • ceramah yang dipotong menjadi reels dan shorts

Tidak selalu buruk. Bahkan kadang sangat membantu penyebaran pesan iman. Namun ada risiko yang jarang dibicarakan: ketika algoritma mulai menentukan isi khotbah.

Algoritma media sosial tidak peduli teologi. Ia hanya peduli satu hal:engagement.
Konten yang memancing emosi akan lebih viral. Konten yang provokatif lebih cepat menyebar. Konten yang menampar ego orang sering ditinggalkan.

Akibatnya, muncul godaan halus bagi pemuka agama: mengubah pesan agar lebih disukai pasar digital. Padahal dalam 2 Timotius 4:3 sudah ada peringatan keras:

“Akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat.”

Mereka akan mencari guru yang mengatakan apa yang ingin mereka dengar. Bukan apa yang perlu mereka dengar.

Popularitas memiliki efek psikologis yang sangat kuat. Setiap notifikasi like memberi dopamin kecil di otak. Setiap video viral memberi validasi sosial.

Dan perlahan, pelayanan bisa berubah arah: dari mencari jiwa → mengejar angka, dari mengajar kebenaran → memproduksi konten. Bukan lagi bertanya: “Apakah ini benar?” Tapi: “Apakah ini akan viral?”

Menariknya, masalah ini sebenarnya sudah disinggung sejak dua ribu tahun lalu. Yesus Kristus pernah berkata dalam Injil Matius 6:1:

“Hati-hatilah supaya jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka.”

Yesus sedang mengkritik religiusitas yang mencari perhatian publik. Dalam bahasa sekarang: kesalehan yang dipamerkan.

Fenomena lain yang muncul adalah religious celebrity. Pemuka agama diperlakukan seperti bintang hiburan. Ada fanbase, ada merchandise dan ada tur ceramah.

Tidak jarang orang lebih mengenal nama pendetanya daripada isi kitab sucinya. Ini pernah terjadi bahkan di gereja mula-mula. Dalam 1 Korintus 3:4, orang berkata:

“Aku dari Paulus, aku dari Apolos.”

Mereka mulai mengidolakan tokoh, bukan kebenaran. Paulus dari Tarsus langsung memotong fenomena itu. Ia berkata: “Siapakah Apolos? Siapakah Paulus?” Kami hanya pelayan.

Ketika popularitas terlalu besar, komunitas iman bisa berubah menjadi fans club rohani. Pemimpin tidak lagi bisa dikritik. Setiap kritik dianggap serangan iman.

Padahal dalam kitab suci, pemimpin rohani justru harus lebih transparan dan bisa ditegur.Karena semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar juga tanggung jawab moralnya.

Ironinya, banyak pemuka agama mengkritik dunia hiburan karena terlalu mengejar popularitas. Tapi tanpa sadar, sebagian justru menggunakan metode yang sama. Thumbnail dramatis, judul sensasional dan konten provokatif. Bedanya hanya satu: yang satu disebut entertainment, yang lain disebut pelayanan.

Masalah terbesar muncul ketika jumlah pengikut menjadi ukuran keberhasilan pelayanan. Padahal dalam iman, angka tidak selalu mencerminkan kebenaran.

Dalam Injil Yohanes 6:66 bahkan dicatat banyak murid meninggalkan Yesus karena ajarannya terlalu keras. Kalau Yesus mengikuti algoritma zaman itu, mungkin Ia akan mengubah pesannya agar lebih disukai massa. Tapi Ia tidak melakukannya. Karena kebenaran tidak selalu populer.

Banyak pelayanan paling tulus justru tidak pernah viral. Pendeta desa yang setia puluhan tahun. Ustaz kampung yang mengajar anak-anak dan Guru rohani yang melayani tanpa kamera.

Tidak ada followers jutaan, tidak ada konten trending. Tapi mungkin di mata Tuhan, pelayanan mereka lebih besar daripada influencer religius manapun.

Penutup

Media sosial bukan musuh agama. Ia hanya alat. Masalahnya bukan teknologi. Masalahnya adalah hati manusia. Karena selalu ada godaan halus bagi pemuka agama: mengarahkan orang kepada Tuhan, atau mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri.

Dan mungkin itu sebabnya pesan sederhana dari Yohanes Pembaptis dalam Injil Yohanes 3:30 tetap relevan sampai hari ini:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Kalimat pendek. Tapi cukup untuk membedakan: pelayanan sejati dan popularitas religius.

Posting Komentar untuk "Pendeta, Ustaz, dan Popularitas: Tuhan atau Followers?"