Tiada Yang Abadi di Dunia Ini

abadi

Ketika Kita Mengira Semuanya Akan Selamanya

Ada satu kalimat yang sering muncul di film, lagu, bahkan di obrolan warung kopi: “tidak ada yang abadi di dunia ini.” Klise? Mungkin. Tapi anehnya, kalimat klise itu justru salah satu kenyataan paling jujur dalam hidup manusia.

Kita hidup di dunia yang semuanya bergerak. Tidak ada yang benar-benar diam. Waktu berjalan, musim berganti, orang datang lalu pergi. Bahkan perasaan yang dulu terasa seperti selamanya—eh, ternyata cuma sampai semester berikutnya.

Dunia ini seperti stasiun. Orang datang, sebentar duduk, lalu naik kereta berikutnya.
Manusia punya kebiasaan unik: menganggap sementara sebagai permanen. Waktu muda, kita pikir masa itu akan selalu panjang. Waktu jatuh cinta, kita pikir perasaan itu akan selalu sama. Waktu sukses, kita merasa dunia sudah berada di genggaman.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan sebaliknya. Dulu orang mengira kerajaan akan berdiri selamanya. Lihat saja kejayaan Roman Empire. Kekaisaran yang pernah menguasai hampir seluruh Eropa itu akhirnya runtuh juga.

Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan raksasa. Banyak yang dulu dianggap “tidak mungkin kalah”. Tapi waktu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia: tidak ada yang kebal perubahan.

Masalahnya bukan perubahan. Perubahan itu normal. Masalahnya adalah kita sering tidak siap berubah. Kita terlalu nyaman dengan keadaan sekarang. Kita terlalu yakin semuanya akan tetap sama.

Hubungan yang dulu hangat bisa jadi dingin. Teman yang dulu dekat bisa jadi asing. Pekerjaan yang dulu stabil bisa tiba-tiba hilang. Bukan karena hidup kejam. Tapi karena hidup memang dinamis.

Lucunya, manusia sering baru sadar sesuatu berharga setelah ia pergi.
Kesehatan terasa biasa saja… sampai sakit datang. Keluarga terasa biasa saja… sampai jarak memisahkan. Waktu terasa banyak… sampai umur mulai menipis.

Padahal sejak awal hidup sudah memberi banyak tanda. Bunga mekar, lalu layu. Pagi datang, lalu malam tiba. Anak kecil tumbuh, orang tua menua. Semua seperti bisikan pelan dari alam semesta: “Jangan terlalu menggenggam dunia.

”Kalau Tidak Ada yang Abadi, Lalu Apa Gunanya Hidup?

Ini pertanyaan penting.  Kalau semuanya sementara, apakah hidup jadi tidak berarti? Justru sebaliknya. Karena tidak abadi, maka setiap momen jadi berharga.Karena waktu terbatas, maka setiap kesempatan jadi penting. 

Karena hidup tidak selamanya, maka kasih sayang tidak boleh ditunda. Bayangkan kalau hidup manusia seribu tahun. Mungkin kita akan menunda semuanya. Menunda meminta maaf. Menunda mencintai. Menunda berbuat baik. Tapi karena waktu kita terbatas, hidup jadi serius sekaligus indah.

Dunia ini seperti panggung. Tempat manusia datang, memainkan perannya, lalu pulang. Tidak ada kekayaan yang bisa dibawa. Tidak ada jabatan yang bisa disimpan selamanya. Tidak ada popularitas yang benar-benar kekal.

Sejarah manusia penuh dengan tokoh besar yang pernah dielu-elukan, lalu perlahan dilupakan. Dunia bergerak terus. Generasi berganti. Nama-nama baru muncul. Dan di tengah semua perubahan itu, manusia sering diingatkan pada satu hal: mungkin memang dunia ini bukan tempat yang dimaksud untuk kekal.

Penutup

Menyadari bahwa tidak ada yang abadi bukan berarti kita harus pesimis. Justru sebaliknya. Kesadaran itu membuat kita lebih bijak dalam menjalani hidup.

Tidak terlalu sombong saat di atas. Tidak terlalu hancur saat di bawah. Tidak terlalu menggenggam hal-hal yang memang sementara. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa lama kita memiliki sesuatu, tetapi bagaimana kita menggunakannya selama masih ada.

Dan mungkin itulah rahasia kecil kehidupan:Yang sementara justru mengajarkan kita menghargai yang sesungguhnya.

Posting Komentar untuk "Tiada Yang Abadi di Dunia Ini"