Dulu Dicap Sesat, Sekarang Didukung: Ketika Kebenaran Kalah Sama Kepentingan

suni siah

Stop telan mentah-mentah narasi viral. Baca ini sampai habis—biar lo gak jadi korban propaganda yang dibungkus “kebenaran”.

Realita yang Gak Nyaman: Ingatan Publik Itu Pendek

Ada satu fenomena yang makin sering muncul di era digital: orang bisa teriak paling keras hari ini…dan besok pura-pura lupa apa yang dia teriakkan kemarin.

Dulu, kelompok tertentu—khususnya Syiah—dicap habis-habisan: “sesat”, “berbahaya”, “ancaman”. Narasinya masif. Kampanye gede. Bahkan kadang dibumbui ayat, dalil, dan jargon teologis biar kelihatan suci.

Tapi sekarang? Plot twist. Tiba-tiba ada yang justru mendukung mereka. Kenapa?
Bukan karena ada pertobatan teologis.
Bukan karena ada kajian ulang yang jujur.
Tapi karena musuhnya berubah.

Kalau dulu lawannya Syiah, sekarang lawannya Israel dan Amerika. Dan dalam logika politik: musuh dari musuh adalah teman. Sesederhana itu. Sekacau itu.

Kontradiksi yang Terlalu Jelas Tapi Diabaikan

Mari jujur: ini bukan soal iman. Ini soal posisi. Kemarin: “Ini ajaran menyimpang!” Hari ini: “Kita harus dukung mereka!”

Apa yang berubah?
Apakah doktrinnya berubah? Tidak.
Apakah keyakinannya direvisi? Tidak.
Yang berubah cuma… arah angin politik.

Dan di sinilah kontradiksi itu kelihatan telanjang. Kalau kebenaran bisa berubah tergantung siapa musuhnya, maka yang kita pegang bukan kebenaran—tapi kepentingan.

Apologetika yang Jujur vs Narasi yang Oportunis

Dalam dunia apologetika (pembelaan iman), ada satu prinsip penting: konsistensi. Kalau sesuatu itu salah secara teologis, ya tetap salah. Gak peduli situasi geopolitik lagi panas atau lagi adem.

Apologetika bukan alat propaganda. Bukan juga alat buat cari teman dadakan. Masalahnya, banyak orang gak lagi membela iman—mereka membela posisi.

Dan posisi itu fleksibel.
Bisa dibengkokkan.
Bisa dibalik.
Bisa dijual.

Kita Ini Konsisten… Dalam Inkonsistensi

Lucunya, banyak yang masih merasa dirinya “teguh dalam kebenaran”. Padahal kalau ditarik garis lurus dari pernyataan kemarin ke hari ini, yang ada bukan garis… tapi zig-zag.

Kita hidup di zaman di mana: Label bisa diganti semudah ganti status, musuh bisa jadi kawan dalam semalam dan “kebenaran” bisa diedit sesuai timeline. Ini bukan cuma masalah agama. Ini penyakit cara berpikir.

Jadi, Harus Gimana? Santai. Gak usah panik. Tapi juga jangan naif. Beberapa hal yang perlu lo pegang:
  1. Bedakan iman dan politik
    Jangan campur aduk sampai gak bisa bedain mana keyakinan, mana strategi.

  2. Uji konsistensi
    Kalau seseorang berubah 180 derajat tanpa alasan jelas, patut dipertanyakan.

  3. Jangan ikut arus tanpa mikir
    Viral bukan berarti benar. Ramai bukan berarti valid.

  4. Berani jujur—even kalau itu gak populer
    Kebenaran seringkali sepi. Tapi tetap kebenaran.

Penutup: Kebenaran Itu Gak Ikut Tren

Kalau kebenaran harus nunggu situasi politik dulu baru ditentukan, itu bukan kebenaran—itu opini yang lagi cari panggung. Dan dunia gak butuh lebih banyak orang yang “ikut arus”. Dunia butuh orang yang berani berpikir lurus.

Kalau lo capek sama narasi yang bolak-balik kayak sinyal hilang, share artikel ini.
Biar makin banyak orang sadar: gak semua yang keras itu benar, dan gak semua yang viral itu jujur.

Posting Komentar untuk "Dulu Dicap Sesat, Sekarang Didukung: Ketika Kebenaran Kalah Sama Kepentingan"