NIMBY: Peduli Dunia, Asal Jangan Dekat Rumah Gue
Ada satu fenomena sosial yang makin hari makin keliatan jelas, tapi sering dibungkus rapi dengan kata-kata manis: kepedulian. Namanya NIMBY — Not In My Backyard. Secara sederhana: “Gue setuju… asal jangan di dekat gue.”
Kelihatannya sepele. Tapi kalau ditarik lebih dalam, ini bukan cuma soal lokasi. Ini soal mentalitas.
Ketika Idealismenya Tinggi, Tapi Radiusnya Pendek
Semua orang suka jadi “pahlawan” di media sosial. Dukung pembangunan, dukung keadilan, dukung kemanusiaan. Setuju ada tempat penampungan tunawisma, setuju ada pabrik pengolahan sampah, setuju ada rumah ibadah, setuju ada proyek infrastruktur tapi… begitu lokasinya dekat rumah? Tiba-tiba muncul:NIMBY itu bukan sekadar penolakan. Dia adalah bentuk moralitas yang selektif. Kita ingin terlihat peduli — tapi tanpa bayar harga. Kita ingin perubahan — tapi tanpa gangguan. Kita ingin solusi — tapi bukan di wilayah kita. Ini bukan soal benar atau salah semata. Ini soal kontradiksi yang kita pelihara diam-diam.“Ya jangan di sini dong…”
“Nanti bikin macet…”
“Nanti harga tanah turun…”
“Nanti lingkungan jadi nggak nyaman…” Padahal sebelumnya, paling vokal.
Realita yang Nggak Enak Didengar
Mari jujur: Kita mendukung keadilan… selama tidak mengganggu kenyamanan pribadi. Kita mendukung perubahan… selama tidak mengubah rutinitas kita. Kita mendukung pengorbanan… selama yang berkorban orang lain.Pedas? Iya. Tapi nyata. NIMBY bukan cuma soal proyek. Ini cermin: seberapa jauh kita benar-benar siap hidup dari apa yang kita yakini.
Di satu sisi, penolakan itu masuk akal. Orang berhak menjaga lingkungan tempat tinggalnya. Tapi di sisi lain, kalau semua orang berpikir sama:
Lalu pertanyaannya: Harus di mana? Siapa yang mau “kebagian” dampaknya? Atau kita berharap masalah selesai sendiri?“Jangan di tempat gue…”
Masalah sosial, lingkungan, dan kemanusiaan itu bukan tontonan. Dan dunia nggak berubah cuma karena kita “setuju” dari jauh. Perubahan selalu punya harga. Dan seringkali… harganya adalah ketidaknyamanan.
Jangan Cuma Peduli di Timeline
NIMBY ngajarin satu hal penting: Jangan sampai kepedulian kita cuma sejauh layar. Kalau kita benar-benar percaya sesuatu itu penting, maka pertanyaannya bukan lagi: “Apakah ini baik?” Tapi: “Apakah gue siap ikut menanggung konsekuensinya?”Berani jujur sama diri sendiri? Lo termasuk yang peduli… atau yang peduli asal nggak kena dampaknya? Kalau artikel ini nusuk, jangan cuma diem—share dan ajak orang lain mikir juga.

Posting Komentar untuk "NIMBY: Peduli Dunia, Asal Jangan Dekat Rumah Gue"