Alam Semesta Tidak Butuh Pencipta? Jawaban Alkitab atas Klaim "Universe is Information

Panorama hyperrealistik alam semesta dengan galaksi spiral, nebula bercahaya, bintang-bintang, dan planet yang menggambarkan kebesaran ciptaan Allah.

Belakangan ini beredar sebuah tulisan yang terdengar sangat intelektual. Intinya sederhana:

"Alam semesta hanyalah informasi. Karena informasi selalu sudah ada, maka tidak perlu ada Pencipta."

Sekilas terdengar dalam. Banyak istilah seperti informasi, energi, qi, prana, hingga spiritualitas dipadukan sehingga terlihat ilmiah. Namun justru di sinilah letak masalahnya.

Tulisan tersebut menggunakan banyak istilah filosofis tanpa pernah membuktikan asumsi dasarnya. Ia tampak logis, tetapi sesungguhnya melompat dari satu asumsi ke asumsi lain tanpa landasan yang memadai.

Sebagai orang Kristen, kita tidak perlu takut menghadapi argumen seperti ini. Justru Alkitab mengajarkan kita untuk menguji segala sesuatu (1 Tesalonika 5:21).

Mari kita mengujinya.

Kesalahan Pertama: Menyamakan Alam Semesta dengan Informasi

Argumen tersebut berkata:

"Seluruh alam semesta hanyalah informasi."

Masalahnya adalah: Informasi tidak pernah berdiri sendiri. Dalam ilmu komputer, DNA, bahasa, matematika, bahkan musik, informasi selalu membutuhkan tiga hal:
  • sumber informasi

  • media penyimpanan

  • penerima atau pembaca informasi

Tanpa ketiganya, informasi tidak memiliki makna. Misalnya: Tulisan ini adalah informasi. Tetapi informasi ini tidak muncul begitu saja. Harus ada penulisnya.

Demikian juga DNA manusia.
DNA bukan sekadar molekul kimia.
DNA adalah kode informasi biologis yang sangat kompleks.

Jika seseorang menemukan sebuah flashdisk penuh data di tengah hutan, apakah ia akan berkata:

"Data ini muncul sendiri."

Tentu tidak. Semakin kompleks informasinya, semakin kuat indikasi adanya perancang.

Kejadian 1 Tidak Pernah Mengatakan Alam Semesta Berasal dari Alam Semesta

Kitab Kejadian membuka Alkitab dengan kalimat yang sangat sederhana namun luar biasa:

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kejadian 1:1)

Perhatikan baik-baik.
Allah sudah ada sebelum ruang ada.
Allah sudah ada sebelum waktu ada.
Allah sudah ada sebelum materi ada.

Artinya: Allah bukan bagian dari alam semesta. Inilah yang sering gagal dipahami.
Jika Allah adalah bagian dari alam semesta, tentu Ia membutuhkan pencipta. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. nAllah adalah Pencipta. Bukan ciptaan.

Pencipta Tidak Harus Berada di Dalam Ciptaan

Ini adalah konsep yang sering disalahpahami. Seorang novelis tidak hidup di dalam novelnya. Programmer tidak hidup di dalam software. Pelukis tidak hidup di dalam lukisannya. Mereka berada di luar karya mereka.

Begitu pula Allah.
Allah menciptakan ruang.
Maka Allah tidak dibatasi ruang.
Allah menciptakan waktu.
Maka Allah tidak tunduk kepada waktu. Ini yang disebut dalam teologi sebagai transendensi Allah.

Informasi Selalu Menunjuk kepada Pikiran

Semua informasi memiliki ciri:

  • memiliki pola

  • memiliki makna

  • dapat dibaca

  • dapat diproses

Pertanyaannya: Bagaimana mungkin informasi muncul tanpa pikiran? Huruf-huruf yang tersusun menjadi sebuah novel tidak mungkin muncul karena ledakan percetakan.

Begitu pula DNA. Semakin banyak ilmuwan mempelajari DNA, semakin terlihat bahwa kehidupan dipenuhi sistem informasi yang luar biasa rumit.
Pertanyaannya bukan lagi:

"Apakah ada informasi?"

Tetapi:

"Siapa sumber informasi itu?"

Dalam perspektif Alkitab, jawabannya jelas. Allah adalah Sang Logos. 
"In the beginning was the Word" (Yohanes 1:1).

Kata Logos bukan sekadar "firman". Dalam dunia Yunani, Logos berarti:
  • rasio

  • akal

  • prinsip keteraturan

  • sumber makna

Jadi jauh sebelum manusia mengenal teori informasi, Alkitab sudah menyatakan bahwa seluruh ciptaan berasal dari Firman Allah.

Keteraturan Tidak Bisa Dijelaskan Hanya dengan Kebetulan

Tulisan tersebut berkata:

"Kita hanya fokus pada keteraturan dan mengabaikan ketidakteraturan."

Argumen ini terdengar masuk akal. Namun justru mengabaikan fakta paling besar. Yang membuat ilmuwan bisa melakukan sains adalah karena alam cukup teratur sehingga hukum-hukum fisika dapat ditemukan, diuji, dan dipakai berulang kali.
Jika seluruh alam hanyalah kekacauan, maka:
  • gravitasi tidak konsisten,

  • elektron tidak stabil,

  • matahari tidak dapat diprediksi,

  • matematika kehilangan makna.

Tetapi faktanya tidak demikian. Alam memiliki keteraturan yang luar biasa. Bahkan konstanta-konstanta fisika berada pada rentang yang sangat presisi sehingga memungkinkan kehidupan. Sedikit saja berubah, bintang tidak terbentuk, unsur kimia penting tidak muncul, dan kehidupan seperti yang kita kenal tidak akan ada. Ini sering dikenal sebagai fine-tuning alam semesta.

Keteraturan tidak otomatis membuktikan Allah, tetapi sangat konsisten dengan keberadaan Sang Perancang.

Mencampuradukkan Prana, Qi, Energi, dan Spiritualitas

Tulisan tersebut menyamakan:

  • prana

  • qi

  • energi

  • benda

  • spiritualitas

Masalahnya adalah semua konsep itu berasal dari sistem filsafat dan agama yang berbeda. Prana berasal dari Hindu. Qi berasal dari Taoisme. Energi berasal dari fisika.

Spiritualitas Alkitab berbicara tentang Roh Kudus. Keempatnya memiliki definisi yang berbeda. Menyatukannya seolah-olah identik justru merupakan kekeliruan kategori (category error).

Menggabungkan istilah-istilah tersebut memang terdengar dalam, tetapi tidak membuat argumennya otomatis benar.

Kesalahan Logika: Mengira Jika Sesuatu Sulit Dipahami, Maka Itu Benar

Kalimat pembuka tulisan itu berbunyi:

"Topik ini perlu IQ agak tinggi."

Ini bukan argumen. Ini adalah cara psikologis untuk membuat pembaca yang tidak setuju merasa rendah diri.

Dalam logika, pendekatan seperti ini termasuk bentuk appeal to superiority, yaitu menyiratkan bahwa hanya orang "cerdas" yang akan menerima argumen tersebut.

Padahal, kebenaran tidak ditentukan oleh IQ pembacanya. Sebuah argumen benar karena bukti dan logikanya, bukan karena terdengar rumit.

Allah Tidak Bersaing dengan Sains

Sebagian orang berpikir: Kalau ada sains berarti tidak perlu Allah. Padahal justru banyak ilmuwan besar percaya bahwa alam semesta dapat dipelajari karena memiliki keteraturan yang rasional.

Orang Kristen tidak takut kepada sains. Yang ditolak adalah ketika sains dipakai untuk membuat klaim filosofis yang melampaui wilayahnya.

Sains menjelaskan bagaimana proses alam bekerja. Alkitab menjelaskan mengapa alam semesta ada dan siapa sumber keberadaannya. Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Mengapa Kejadian 1 Tetap Relevan?

Kejadian bukan sekadar cerita asal-usul. Kejadian menjawab empat pertanyaan terbesar manusia:
  • Dari mana kita berasal?

  • Mengapa alam semesta ada?

  • Mengapa manusia memiliki martabat?

  • Kepada siapa kita bertanggung jawab?

Jika tidak ada Pencipta, maka tidak ada dasar objektif bagi moralitas, tujuan hidup, maupun nilai manusia. Tetapi jika Allah adalah Pencipta, maka hidup memiliki makna karena berasal dari Pribadi yang memberi tujuan.

Logos: Sang Sumber Segala Informasi

Ironisnya, jika benar seluruh alam semesta adalah informasi, maka hal itu justru semakin menguatkan kesaksian Alkitab.

Yohanes 1:1 berkata:

"Pada mulanya adalah Firman (Logos)."

Seluruh realitas berakar pada Logos. 
Bukan pada kebetulan.
Bukan pada energi impersonal.
Bukan pada informasi tanpa sumber. Tetapi pada Pribadi Allah yang kekal.

Informasi tanpa sumber hanyalah konsep abstrak. Firman Allah adalah sumber informasi yang hidup, berkehendak, dan mencipta.

Kesimpulan

Argumen bahwa "alam semesta tidak membutuhkan Pencipta karena alam semesta hanyalah informasi" terdengar menarik, tetapi tidak berhasil menjawab pertanyaan yang paling mendasar: Dari mana informasi itu berasal?

Informasi tidak pernah muncul tanpa sumber. Kode tidak pernah ada tanpa penyandi. Hukum tidak pernah ada tanpa dasar rasional. Keteraturan tidak pernah menjelaskan dirinya sendiri.

Alkitab sejak halaman pertamanya telah menyatakan bahwa sebelum ruang, waktu, materi, dan seluruh hukum alam ada, Allah sudah ada. Ia bukan bagian dari alam semesta, melainkan Pencipta yang menopang segala sesuatu melalui Firman-Nya.

Karena itu, iman Kristen bukanlah lompatan tanpa akal, melainkan respons yang selaras dengan wahyu Allah, logika yang sehat, dan pengamatan terhadap dunia ciptaan. Semakin kita memahami kompleksitas alam semesta, semakin besar alasan untuk memuliakan Dia yang menciptakannya.

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin." (Roma 11:36)

Apakah Alkitab bertentangan dengan ilmu pengetahuan?

Tidak. Alkitab menjelaskan siapa Pencipta dan tujuan penciptaan, sedangkan ilmu pengetahuan mempelajari mekanisme alam yang diciptakan Allah.

Apakah informasi bisa muncul dengan sendirinya?

Hingga kini, tidak ada contoh empiris bahwa informasi kompleks dan bermakna muncul tanpa suatu sumber atau penyebab yang memadai. Dalam kehidupan sehari-hari, informasi selalu berkaitan dengan suatu sistem atau penghasil informasi.

Mengapa Allah tidak membutuhkan pencipta?

Karena menurut Alkitab, Allah adalah Pribadi yang kekal (Mazmur 90:2). Ia adalah Penyebab yang tidak disebabkan (uncaused cause), sedangkan ruang, waktu, dan materi merupakan bagian dari ciptaan.

Apa arti "Logos" dalam Yohanes 1:1?

"Logos" berarti Firman, akal budi, atau prinsip rasional. Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Logos yang kekal, melalui-Nya segala sesuatu dijadikan (Yohanes 1:1–3).

Posting Komentar untuk "Alam Semesta Tidak Butuh Pencipta? Jawaban Alkitab atas Klaim "Universe is Information"